Monday, 29 May 2017

Menjadi Lebih Indah di Penghujung Waktu

Dalam satu meja panjang yang berasal dari dua meja yang digabungin, biasanya itu bikin obrolan orang-orang yang duduk di situ jadi hambar. Jaraknya terlalu jauh, sehingga kalau ada satu orang yang ngomong, harus dengan suara keras, kalau enggak yang lain bakal gak kedengeran. Mereka baru bisa bener-bener pay attention ketika cerita kamu bener-bener menarik.

Tapi malam ini tidak begitu. Setidakpenting dan setidakmenarik apapun cerita yang dilontarkan oleh satu orang di meja itu, semua bener-bener perhatiin, nimpalin, berinteraksi, tertawa terbahak-bahak. Tak ada satu pun yang fokus pada handphonenya. Suasana terasa begitu hidup, begitu hangat, begitu erat. Padahal hari itu, tak seperti kebanyakan hari yang telah kami lalui, kami hanya makan di warung steak yang selama ini kami anggap sederhana.

Sampai rasanya, malam ini, aku tidak ingin beranjak dari meja panjang itu. Meja panjang dipojokan WS yang emang udah kami pesen demi mengasingkan diri dari pengunjung lain, karena obrolan kita selalu cablak dan cadas. Sayangnya, ini pertama kalinya aku merasa kehabisan waktu ketika ngobrol rame-rame dengan teman-teman dekatku di perkuliahan. Selama ini, merasa kekurangan waktu hanya aku alami ketika ngobrol dengan teman-teman dekatku ketika SMA, atau teman-teman magangku di KR.

Selama kuliah, kami selalu merayakan segalanya dengan meriah. Orang memandang kami tidak prihatin, hedon, lavish lifestyle garis keras. Setiap ada yang ulang tahun, di saat itu juga lah kami berkumpul di tempat makan yang tidak murah. Ngobrol sih iya, tapi anehnya, suasananya tidak sehidup dan semenyenangkan malam ini, ketika kami memutuskan untuk makan bareng di waroeng steak.

Padahal kalau menurut mereka, teman-temanku di kampus, WS itu sangat amat sederhana. Gue juga gak ngerti kenapa mereka tumben banget kompakan setuju makan di WS, padahal biasanya mereka selalu mengusulkan makan bareng di resto-resto yang harganya gak bisa dibilang murah.

Ketika mereka lagi asik-asiknya ngetawain obrolan saru, 18+ bin gak mutu, aku perhatiin satu-satu wajah mereka. Biasa lah, sini dramatis, kadang merasa alay tapi mau gimana? Emang gue gini anaknya. Terus gue mikir aja, waktuku sama mereka semakin menipis.

Aku udah lulus bulan Mei dan insyaAllah bakal wisuda bulan Juli. Sementara mereka semua baru sidang bulan Juni, ada yang bulan Agustus, mereka bersama-sama baru bisa wisuda bulan Oktober. Di bulan-bulan itu, aku sudah memutuskan untuk cepat melangkahkan kaki menjemput mimpi-mimpiku, berproses untuk mewujudkannya, mulai dari sekarang. Kemungkinan aku gak bisa datang ke momen bersejarah alias sidangnya beberapa dari mereka, bahkan ketika mereka beramai-ramai wisuda bulan Oktober nanti, aku gak yakin aku bisa datang. Jujur sedih.

Jadi malam tadi bisa jadi malam terakhir kami berkumpul utuh, dengan suasana sehidup itu, sebelum aku bener-bener gak ada waktu buat main-main lagi. Semua ini demi mewujudkan mimpiku sendiri dan membuktikan ke orang tua kalau aku bisa sukses dengan caraku sendiri.

Aku sempet sedih, banget malah. Biasalah, bukankah kita selalu sedih kalau mau meninggalkan zona nyaman demi mencari zona nyaman yang baru?

Meskipun mereka penuh kemunafikan, sampai sempat bikin aku begah, sampai aku harus meluruskan benang bundet di antara mereka, mereka tetep orang-orang yang selama ini membuatku tetap waras. Tetap waras ditengah masalah perkuliahan, masalah keluarga, masalah kepercayadirian. Mereka juga yang selama ini menemani kalau aku kesepian. Kesepian itu gak enak, di saat itulah teman yang asik menjadi berharga. Kebahagiaan juga gak enak kalau dirayakan sendirian, meskipun mereka menganut lavish lifestyle dan kadang kebablasan, mereka itu support systemku selama ini, sampai aku dapet gelar. Kuharap bisa selamanya, tapi aku gak terlalu berharap. Mereka udah punya rencana-rencana besar bahkan Yogyakarta terlalu sempit untuk menampungnya.

Tadi, waktu kita udah selesai dan saling split bon, beberapa dari mereka bilang, intinya, "Salsa, kamu harus bersyukur. Kamu lulus duluan, wisuda duluan, kamu udah tau mau ngapain, udah dapet kerja duluan. Mana ditungguin lagi... Kami ini masih bingung mau ke mana, nantinya masih cari kerjaan, itu aja gak langsung dapet."

Kenapa ya suatu hal akan terasa lebih indah di menit-menit terakhir kita akan melepaskannya? Tentunya, suasana menyenangkan yang datang di ujung waktu kayak gini bukan yang pertama kalinya bagiku.

Suasana menyenangkan yang dateng akhir-akhir kayak gini sama kayak kelas menyebalkan dan gak solid yang mendadak kompak saat mendekati kenaikan kelas. Semua anak dengan berbagai latar belakang mau itu anak kutu buku, anak olimpiade, anak tonti, anak event, anak bolosan, semua ngumpul jadi satu dan ngobrol asik, serame itu, dan lama banget.

Sama kayak anak-anak peleton inti yang akhirnya rajin latihan di lomba terakhir alias last chance dan akhirnya juara. Gak usah dimarahin danton lagi udah gerak sendiri, barisnya semangat dan rapi, dan akhirnya hasilnya gak mengecewakan.

Sama kayak temen menyebalkan yang mendadak menyenangkan di detik-detik terakhir sebelum dia meninggalkan Yogyakarta for a better life. Tidak lagi pelit, tidak lagi banyak mengeluh, mudah bersosialisasi dengan sekeliling. Dari banyak waktu yang kami habiskan untuk merasa begah di sampingnya, baru di detik terakhir dia membuat teman-teman sekelilingnya merasa nyaman.

Semua hal akan terasa lebih indah di penghujung waktu kita mengalaminya atau menikmatinya. Biasanya datang tanpa direncanakan, tanpa harus ngomong, "eh, bentar lagi kita udah bakal jarang ketemu nih, lets make some good memories,"

Di penghujung waktu, sesuatu yang tadinya kita benci bahkan bisa menjadi indah dan bikin kita jatuh cinta. Tanpa disadari, tanpa disuruh, tanpa dipaksa. Terjadi gitu aja. Mungkin masing-masing dari mereka, secara diam-diam, tanpa memberitahukan isi hatinya, menyadari bahwa sisa waktu tinggal sedikit dan mereka harus memanfaatkannya baik-baik?

Sejujurnya aku benci kenapa suatu hal selalu menjadi lebih indah di detik-detik terakhir kita memilikinya, mengalaminya atau merasakannya. Tapi mau bagaimana lagi? Masa depan sudah menanti, saatnya bergerak, aku tidak boleh bermalas-malasan di zona nyaman.










Thursday, 25 May 2017

Annoying People are The People We Dont Understand

Manusia emang kayak bawang merah ya. Berlapis-lapis. Untuk sampai ke intinya, kadang butuh waktu lama untuk mengupas lapisan-lapisan itu satu persatu. Lah kenapa tiba-tiba ngomongin bawang merah? Jadi beberapa hari kemarin aku mengalami fenomena yang sangat aneh, yaitu berkenalan lagi dengan orang yang selama 3 tahun ini menjadi temanku. (what?!)

Terkadang manusia emang suka menghabiskan banyak waktu dengan manusia lainnya tanpa saling mengenal dengan baik ya? Menurutku, kita bisa mengenal seseorang dengan melakukan pembicaraan-pembicaraan mendalam semacam, "lo kalo di rumah sama nyokap bokap lo gimana?", "kok lo bisa putus sama mantan lo yang itu gimana ceritanya?", "lo ada masalah apa sih?", "kalau ada masalah kayak gini, menurut lo gimana?"

I mean, pembicaraan yang bersifat personal. Dengan masuk ke ranah pribadi itu lah kita jadi lebih kenal sama seseorang. Dan setelah aku pikir-pikir lagi, dari sekian banyak teman yang aku miliki, dia lah satu-satunya yang gak pernah membahas hal-hal semacam di atas. Curhat isn't his thing. Selama ini yang dia obrolin cuma masalah korporat, tren gadget, film, yah gitu lah, hal-hal yang umum lah ya. Dia emang seru kalau suruh ngobrolin masalah begituan, kaya pengetahuan gitu lah, makanya gue tetep temenin dia meskipun dia annoying mampus.

Tapi dia emang tertutupnya tak tertolong sih. Tingkat kecuekan dia terhadap masalah-masalah personal sampai pada tingkat ketika lagi ngumpul sama temen yang lain dan mereka udah mulai membahas curhatan mereka masing-masing, dia langsung "menepi". Dia selalu menjauhkan dirinya dari obrolan-obrolan personal dan memilih untuk sibuk dengan gadgetnya. Mungkin memang aku orang yang selalu mbanyol, tapi aku memang senang mengamati sekeliling. Aku benar-benar memperhatikan satu persatu temanku, termasuk dia.

Akibat dari perilakunya yang tak pernah membahas siapa dirinya itu, semua temanku, termasuk aku, jadi salah paham terhadapnya. Selain sangat tertutup, kebetulan, dia orang yang kurang paham common sense alias hal-hal remeh masalah kepekaan yang semua orang tu harusnya udah tau. Sesimpel cara ngasih duit yang sopan ke orang, pamit ke orang tua temen sebelum pergi jemput temennya, cara minta tolong dengan baik, baca situasi kapan harus ngikutin temen atau biarin temen sendiri, yah, hal-hal semacam itu luput banget dari perhatian dia. Keluputan itu pun dia lakukan setiap hari. Belum lagi, dia anak orang kaya yang penampilannya parlente abis. Semakin mendukung image jahat, semena-mena, dan sombongnya dia di mata kami.

Kami semakin tidak mengerti dia dan akhirnya berujung membencinya di belakang punggungnya. Awalnya kami pikir, dia adalah manusia tidak tahu sopan santun yang tidak peduli siapapun kecuali dirinya sendiri.

**

Gue pernah muntab banget ama dia ya. Jadi, suatu saat gue pernah nonton film beauty and the beast berdua sama dia. Setelah nonton film itu, dia jalan di samping gue sambil bergumam,

"Bener kan, Sals?"
"Bener apanya?"
"Itu lho, alasan kenapa Belle bisa jatuh cinta sama Beast."
"Kenapa emang?"
"Coba kamu pikir, Sals, kalau Beast bukan pangeran dan Beast enggak tinggal di kastil, kira-kira Belle masih mau gak sama dia? Semua itu karena dia kaya."

Meskipun gue setengah mati kaget sama sisi personal dia yang jarang banget dia munculkan itu, aku memutuskan untuk tidak menyerangnya dulu dengan opiniku.

"...It doesn't matter if you're ugly, as long as you're rich, you can get anything, Sals. Iya kan?" kalau dia gak nanya 'iya kan?', aku tidak akan menjawab, tapi dia nanya, maka, "menurutku enggak. Belle jatuh cinta sama Beast karena dia bisa mengerti dunianya Belle."

"Oh ya? Oke itu emang bener, tapi kalau Beast gak tinggal di kastil apa Belle masih mau? Dengan uang kita bisa beli semuanya lho."

Anjay ni orang. Kok gue kesel ya? Akhirnya ku menatapnya lurus-lurus alias nantang dan bilang, "Uang emang penting. Tapi, enggak segalanya juga sih. Uang gak bisa beli attitude baik yang gak kamu punya," ternyata doi pun belom menyerah guys.

"Kalau kita punya uang, orang yang tadinya gak baik sama kita bisa jadi baik sama kita."
"Iya, itu emang bener. Tapi kan jatuhnya orang baik sama kamu bukan karena kamu tapi karena uang kamu kan?" Dia akhirnya terdiam begitu saja sambil menatapku lamat-lamat entah apa yang dia pikirin. Mungkin mau ngajak debat tapi capek atau apalah. Hari itu gue bener-bener gak habis pikir sama pikirannya. Ingin memaki, tapi apa daya, semua orang punya pemikirannya masing-masing.

**

Mungkin aku adalah orang yang paling dramatis di antara teman-teman yang dia miliki. Hal-hal kecil baik itu buruk dan indah, aku selalu perhitungkan. Di balik semua kemuakanku sama dia, jauh di dasar lubuk hatiku, aku tau dia bukan orang jahat. Awalnya aku pun mengira dia seperti yang dikatakan teman-temanku, tapi pandanganku soal dia berubah ketika dia menolongku saat kami menjadi panitia makrab di semester 3.

Aku juga ingat saat dia mengusulkan sisa makan prasmanan (sebenernya bukan sisa, karena ada yang masih utuh juga sih) reuni kelas semester 1 untuk dibungkus dan dibagi-bagikan saja pada tuna wisma di emperan toko. Kemudian bersama teman-temanku yang lain, kami membantunya membagi-bagikan nasi bungkus di emperan toko. Jadi, masa iya dia orang jahat?

Semua ke-annoying-an dia baru terjawab belakangan ini ketika teman-temanku memutuskan untuk ngambil jarak sama dia. Di balik punggung dia, teman-temanku udah ngejelekin sampe gak ngerti lagi jahatnya kayak apa.

Kalau yang kenal aku, aku bukan orang yang tahan untuk tidak mengungkapkan rasa suka atau gak sukaku ke seseorang. I'll brutally tell that person the fact. I'll make sure they know about my perspection or my feeling, entah itu pake bahasa tubuh atau kalau emang gak peka ya aku tampar pake omongan sekalian. Setelah mikir-mikir, akhirnya sa memutuskan untuk bertemu dia untuk ngomong langsung lah sama dia tentang sifat-sifat dia yang aku gak suka itu. Capek kali ngomongin di belakang. Dia nya tetep gak tau salahnya apa, tetep ngeselin, abis itu temen-temen ngomongin di belakang, dia nya tetep gak tau !@#$$ muter aja terus.

Setelah 3 jam mencurahkan segala energi yang aku miliki untuk "menggali" orang se-tertutup dia, akhirnya dia pun bercerita tentang kehidupan pribadinya yang selama 3 tahun kami berteman, dia gak pernah ceritain. Ya abis itu gue jadi makin sadar kalau orang annoying itu sebenernya adalah orang-orang yang tidak kita pahami. Orang-orang tertutup, orang-orang yang tidak tahu bagaimana cara menceritakan siapa dirinya kepada orang-orang di sekelilingnya.

"Aku bukan hanya nganggep kamu orang annoying, tapi aku juga melihat kamu sebagai orang yang kesepian," begitu gue bilang kayak gitu, mata dia langsung merah. Dia diem lama banget, sampai akhirnya dia menangis di depanku. Nangis gak pake suara sih, biasalah nangisnya cowok gitu, kalem,. Melihat orang sedatar dia menangis, membuatku ingat akan teman SDku.

Iya, tangisan tanpa suara itu mirip kayak teman SD ku yang kekancingan di kamar mandi sampe sore, dan akhirnya pas menjelang maghrib ada pak bon yang ngebukain pintu kamar mandi dan membebaskan dia. Mirip orang yang udah terkurung lama banget dalam suatu tempat dan akhirnya nangis karena ada yang ngebebasin.

"Iya, kamu bener, Sals. Waktu aku kecil..." dia mulai bercerita dan yang bisa aku lakukan hanya mendengarkan. Mau nangis sih. Soalnya.... ya soalnya gak nyangka aja. Sebagai teman, dia terlihat kuat, cuma ya itu tadi, sombong, seenaknya dan annoying. Ternyata ada sebabnya juga kenapa dia kayak gitu.

Sepi, selalu sendiri, hidup enak tapi gak bahagia. Masalah kebanyakan anak yang orang tuanya terlampau sibuk. Dia merasa hidup tanpa arah dan bimbingan. Tak tahu mana yang salah dan yang benar, tak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik. Fungsi sosialnya terganggu, dia gak tau gimana cara memperlakukan orang-orang di sekelilingnya dengan tepat, supaya dia bisa terus menerus keep orang-orang tersebut. Apalagi kita hidup di dunia yang hipokrit, orang cuma bisa ngomongin di belakang, gak berani negur karena takut sama reaksi orang yang kita tegur. Makin gak tau kan dia nya?

Kemudian aku jadi mikir, jangan-jangan masih banyak orang di sekitarku yang dicap "annoying" padahal sebenarnya dia adalah orang baik. Mereka jadi annoying karena mereka gak paham aja sama orang-orang di sekelilingnya.

Man, ternyata bisa gitu ya? Selama ini gitu lho, gue jadi temennya. Baru kali itu dia cerita tentang siapa dirinya. Coba deh kalian pikir lagi, jangan-jangan kalian punya temen deket yang gak kalian kenal?

"Makasih ya, Sals. Seumur hidupku, aku belum pernah ditegur kayak gini. Sekarang kan aku jadi tau apa yang salah di aku dan apa yang harus aku perbaiki," pertemuan itu diakhiri dengan dia yang bilang makasih dengan suara yang rada-rada geter.

Keesokan harinya, dia adalah orang yang berangsur-angsur mulai berubah. Untungnya ke arah yang lebih baik. Aku jadi bertekad, besok kalau ada temen yang annoying, aku gak akan nyerah deh untuk negur dia. Apapun yang terjadi, mau abis itu dia gak terima, mau marah, atau apa kek, I'll never give up, seenggaknya mereka tau apa yang harus diperbaiki dari diri mereka.

Pokoknya, hari itu aku belajar banyak dan aku bersyukur aja. Aku juga seneng karena bisa membantu orang. Sebenarnya orang-orang di sekeliling kita itu adalah pembelajaran lho. Investasi kita di masa depan kalau kita menghadapi masalah. Dengan ngobrol sama orang, kita jadi tambah perspektif tentang suatu permasalahan dan gimana cara mengatasinya. Gak cuma itu sih, kita juga bisa antisipasi, hal-hal apa yang sebaiknya kita hindari supaya kita tidak mendapat masalah-masalah tersebut.