Sunday, 7 October 2012

Antara Om*h P*de*, Pizza Hut, dan 3 Teman Gila

Sore hari, di hari pertama musim hujan mungkin.. Setelah mengalami luka pada bagian otak akibat tes psikologi, aku memutuskan untuk latian ngecover lagu buat tugas musik bersama kelompokku, Aisya, Kenita, dan Ajeng. Mungkin nampaknya kami berbeda dunia, tapi ternyata mereka cukup mengasikkan. Keliatannya aja sih alim dan gak pernah macem-macem... tapi ternyata, kata-kata mereka juga tak terkendali, gak pernah beres. Guncangan psikis sampe-sampe nih jiwa.

"Aku laper, ada yang mau makan gak?" 
"Kamu mau makan dimana, Ken?"
"Kalian makannya mau dimana?"
"Kamu makannya mau dimana?"
"Aku manut kalian deh.."
"Yang searah sama rumahnya Aisya aja deh... Biar gak wasting time..."

Sebenarnya, di hos cokro-bugisan (masih daerah rumahnya Aisya) banyak banget tempat makan. Kemudian aku menyebutkan satu persatu. Kemudian kami memutuskan ke WS setelah sekian lama tanya-tanyaan "Kamu mau makan dimana, Ken?" dan dijawab dengan "Kalian mau makan dimana?" sebanyak puluhan kali.

Ternyata sampai WS, WS nya tutup.... Hati Kenita hancur dan mukanya makin melas.

"Sebenernya WS itu bukanya jam 2 siang, Sal. Kalo enggak jam satu..... Tapi kukira hari Minggu bakal beda, dan buka jam 11 kurang...." Ternyata Kenita berekspektasi seenaknya.
"KENAPA KAMU BARU BILANG SEKARANG KEEEENNN?!"
"Hehehe."
"Ketawa!"
"Yaudah, sekarang mau makan dimana?"

10 menit berlalu, Ajeng menghitung "murah dan enakan yang mana" diantara semua warung yang ada di sepanjang jalan hos cokro.

"Bingung." Kata Ajeng akhirnya -_-
"Terus gimana?! aku laper banget nih... huaa.." Kata Kenita melas.
"Yaudah ngasal aja.." Kata Aisya

Kemudian mataku menangkap sebuah tempat makan yang gak jauh dari WS, terletak di seberang jalan, warung itu bersinar. Sabar Ken, bertahanlah! jangan mati dulu.

"Tuh ada om*h p*de*."
"..."
"..."
"..."
"Kok pada diem? katanya ngasal?"
"Itu makanannya apa aja?" Kata Kenita

Argh.
Udah laper masih milih-milih.

Kita caw ke om*h p*de*.
Masuk ke warung makan itu............................... Sepi. Hanya ada kakek nenek lagi makan ayam bakar.

Dengan ragu dan hati yang tidak ikhlas, kami makan disana dan SHOCK THERAPY liat harganya. Itu-murah-banget. Kami buka buku menu dengan kamseupay, tapi ternyata... di buku menu harganya beda. DUA KALI LEBIH MAHAL DARIPADA YANG ADA DI PAPAN.

Kami saling pandang.

"Ada paket yang berempat gitu gak sih?" Kata Aisya.
"Emang Pizza Hut?" Kata Ajeng.

Seketika atmosfer memanas, kami saling pandang lagi.

"Pindah tempat yuk." Kata kami berbarengan.
"Pizza Hut." Kata kami hampir berbarengan pula.
"Heh tapi ngawur aja, kita kesini masa cuma numpang duduk gak ada dua menit?! gila kalian!" Aku mulai guncangan psikis.
"Yaudah, kita pesen aja es teh, di minum rame-rame." Kata Aisya kalem.
"Iya, bener, gitu aja." Kata Kenita tanpa dosa.

Girls, are you serious? -_____________________-

"Mbok pesen yang agak elit! es teh mah di angkringan bisa!" Kata Ajeng.
"Tapi gimana ngomongnya? Mau dikata apa kita ntar masa kesini berempat cuma pesen satu makanan?!" Aisya mulai panik.
"Gimana sih kalo gak usah pesen aja? gak jadi gitu."

Tapi kami sadar, kami masih punya hati nurani. dan gak tega, apalagi dengan kondisi warung sesepi itu.

"Aduh gimana nih, huaa, gimana nih, haaa..." Aisya, Kenita, dan Ajeng malah ber hua hua mengelilingi aku yang cuma pasang emote "-______-"

Otakku yang terkadang mempermalukanku ini mulai berfikir, dan biasanya itu pertanda datangnya bencana.
Aku beranjak. Mereka bertiga panik.

"KOWE AREP NGOPO, SAL?!"

Mereka sudah punya firasat buruk menyusup kalbu.

"Siniin buku menunya."

Mereka menatapku dengan ragu.

"SINIIN GAK?!" aku mulai guncangan psikis.

Aku membuka buku menu dengan frustasi. Tulisan "REMPELO GORENG KREMES 2.500/BIJI" tiba-tiba langsung bercahaya. Aku menghampiri mas-mas pelayan warung.

"Mas, aduh, kita buru-buru nih mas... kita pesen ini aja ya mas, rempelo goreng kremes..."

Mas pelayan menatap kami satu persatu dengan tatapan bingung. mungkin batinnya "GILE LO, PHP, MASA CUMA REMPELO?!" 

"Emangnya mau kemana, mbak? gak mau cobain menu baru? ini ada..-" ternyata mas-masnya kepo, sakit hati udah di php in kali.....

Wajah mas-mas itu nampak berusaha mbujuk kita supaya pesan yang agak elit dikit... Tapi takkan kubiarkan hal itu terjadi! harga segajah tapi porsi sesemut? TIDAAAAAAAKK AKAAANNN! Sepertinya bukan tarif pelajar.

"....Ada sambel bawang, ada gurami saus nanas, ada macem-macem yang baru silakan dipilih, ini juga ada-"

"Maaf ya mas, aduh.. buru-buru banget nih..." Potongku sambil sok sokan liat jam hape. Setengah gak tega sama mas-masnya.

Kemudian kebiasaan jelekku muncul.

"...Ken. gimana sih? kok bisa salah jadwal? harusnya kita sekarang udah disana, aduh bisa gawat kita kalo telat. Ntar dosennya marah." Lanjutku.

"Maaf mas, ternyata kita ada kuliah udah telat limabelas menit." Semua kukatakan dengan meyakinkan, like usual.

Kenita mangap. Gak tahan sama kelakuanku.

"Cepetan tolong gorengin ya mas."

Si mas-mas langsung masuk ke dapur dengan cepat.

**

"Pizza Hut aja, sensasi delight per orang 20 ribu udah dapet 4 slice pizza, garlic bread, minum per orang. Daripada tadi 20 punjul dapetnya seuprit.. nasinya dikit banget, patah hati..." Kata Ajeng.

"Ayo cus PH." Kata Kenita girang.

"Lho, katanya mau ke kampus?" Aisya menatapku nista.

Sampailah kita di PH. Dengan Ajeng yang menenteng bungkusan rempelo ayam goreng kremes. Setelah dipersilahkan "mbak-mbak PH yang selalu riang dan ramah" untuk duduk dan memesan pizza, kami mulai gak tahan, perut udah laper banget, bau pizza menyeruak.... Dan mereka bertiga mendadak liar.

"Ayo makan rempelo atinya disini sambil nunggu Pizza datang." Ajeng mengomando
"AYO!"

Aku cuma bisa bengong dan melihat sekeliling... orang-orang di PH siang itu menatap kami dengan... tak terdefinisi. Setelah gak mau ikut-ikutan, tapi perut berkata lain, semenit kemudian aku udah asyik nyomotin rempelo ayam yang cuma seuprit itu bareng mereka. Bodo amat diliatin. Laper.

"Kok ini susah dicuil ya?" 
"Pake pisau ini aja!" Ajeng ngambil pisau pizza yang mentereng itu dan diceburin ke box rempelo.

Kemudian kami makan rempelo pake pisau pizza. Wareg. Bahagia. Tak peduli banyak orang menatap nista. Ini sungguh hari yang mengasyikkan. Bar kuwi wareg ngantek ra kuat ngentekke pizza. Hahahahaha, ini baru yang namanya menikmati masa-masa puber! jaya! hahahahaha #alay














No comments:

Post a Comment