Sunday, 22 December 2013

Musim Hujan Ketiga

Aku sedang memikirkan satu kenangan. Kenangan sederhana yang terlanjur jadi penting dan menggembirakan setiap diingat.

Setiap sedang susah, jika kenangan itu terlintas pasti aku akan tersenyum sendirian. Kalau sepi aku juga tidak segan-segan tertawa sendirian. Menertawakan aku yang senang hanya dengan memikirkan kenangan itu.

Rasanya ingin kembali ke masa itu dan menampar pipiku sendiri ratusan kali. Meyakinkan kalau yang terjadi saat itu, meskipun kenyataan, tapi judulnya tetap mimpi.

Kenangan itu tidak terjadi saat hujan, tapi seiring tetes hujan jatuh membasahi bumi, bunyi rintiknya menyerupai bunyi pintu yang diketuk. Seolah hujan mengetuk-ngetuk pintu sebuah ruangan, dimana kenangan usang itu berada.

Sambil melihat hujan aku membayangkan kenangan itu adalah sebuah gelas. Setiap tetes hujan akan membuat gelas itu pecah, kemudian masing-masing pecahan itu akan pecah lagi, dan pecahan-pecahan dari pecahan pertama akan pecah lagi. Begitu seterusnya hingga berserakan disana-sini, memenuhi ruangan otakku yang kecil. Penuh dan sesak.

Hari dimana aku lebih memilih melihat lantai ruangan yang sama sekali tidak menarik, padahal di hadapanku ada seulas senyum yang selalu mencuri hatiku. Demi menyelamatkan jantung dan menahan diri untuk bermimpi, aku terus menatap lantai-lantai ruangan yang sepertinya berwarna merah dan sedikit oranye. Aku lupa. Tidak apa-apa lantainya tidak menarik, yang penting aku tidak terbayang senyummu dan mulai bermimpi lagi saat itu juga.

:))

Ah, kenangan. Sudahlah, cukup diingat, tidak untuk diulang.

No comments:

Post a Comment