Tuesday, 24 December 2013

Sinetron Langsung

Pagi ini bisa dibilang adalah salah satu pagiku yang tak biasa. Bukan, aku bukan mengalami suatu kesialan lagi tapi.. ada suatu cerita yang membuatku berpikir. Padahal aku ini jarang berpikir. Pagi yang berwarna ini dimulai ketika tetangga depan rumahku yang baru saja hamil usia satu bulan mengalami keguguran. Kemudian aku dan ibuku menemani tetanggaku untuk melakukan kiret (pembersihan rahim dari jaringan yang mati. apalah itu namanya) di sebuah rumah sakit bersalin. Tetanggaku satu itu kuat banget loh, suaminya kerja di tempat yang sangat jauh, dan sehari-hari dia di rumah cuma sama anaknya yang berumur sekitar 5 tahun. Oke, lanjut..

Habis shubuh kami berangkat, karena tetanggaku akan dikiret jam setengah 6. Sampe di rumah sakit bersalin, ternyata tetanggaku udah masuk ke ruang operasi. Sambil nunggu si tante, aku dan ibuku duduk-duduk di dekat meja administrasi, disana ada banyak perawat dan petugas rumah sakit yang duduk-duduk sambil bekerja dan ngobrol sedikit.

Ada seorang perawat membawa keluar tempat tidur berjalan yang berisi seorang wanita, terlihat masih sangat muda. Dia habis melahirkan secara sesar. Kemudian perawat tadi, setelah wanita itu sadar, minta KTP untuk data diri. Pokoknya habis keluar dari ruang inap wanita itu, perawat itu bilang---

"Lhoh... Kelahiran sembilan empat toh."

Pantesan aja doi kelihatan kayak temen sebayaku. Cielah, doi. Berbagai pikiran muncul dalam otak. Gak sih, gak berbagai, cuma satu: MBA? atau HDN? ya pokoknya gitu lah, kalian yang baca juga pasti mikir gitu kan? Kalo gak mikir gitu ya, berarti kalian anti-mainstream.

Kemudian para perawat dan petugas terlihat agak serius berdiskusi. Sebenarnya aku gak niat nguping, tapi, pembicaraan mereka terlalu keras untuk kupingku. ((( HAEYOH ))) Inti yang aku tangkap dari percakapan para petugas adalah: proses pengadopsian anak.

"Bu, ini sudah selesai kiretnya, pasien udah boleh dijenguk." Suara salah satu perawat membuyarkan konsentrasiku. Aku dan ibuku segera masuk dan melihat keadaan tetangga kami.

Di dalam ruang operasi, tetanggaku yang masih setengah sadar keliatan sedih, meskipun dia berusaha bercanda. Kemudian dia bercerita--

"Tadi sebelum aku dikiret, sampingku tu anak ijih enom sak umuran Salsa.. Katanya itu melahirkan anak keduanya. Liat kan tadi dia dibawa keluar ruang operasi?"

Di usia yang sepertiku? Anak kedua? Gak tau kenapa tiba-tiba pikiranku berubah, siapa tau dia menikah muda. Kalo MBA atau HDN ga mungkin kayaknya diulangi sampe lahir anak kedua. Tapi ternyata gak gitu juga, si tante cerita (dia tau dari perawat), anak pertama dari wanita itu diasuh sama orang tua wanita itu, kemudian anak kedua, wanita itu, saat selesai melahirkan bilang ke perawat..

"Mbak, tolong, ini anak saya, tolong dirawat disini saja, kasih ke siapa saja yang mau ngadopsi. Saya gak sanggup biayain anak ini." Kira-kira gitu, pakai bahasa jawa ngoko.

Singkat cerita, wanita itu melahirkan kedua anaknya sama-sama tanpa bapak. Bapaknya gak tau pergi kemana. Entahlah, tapi bapak masing-masing anak juga berbeda. Dia bilang tidak sanggup membiayai anak laki-laki itu di masa depan, mengaku karena sayang, dia memutuskan anaknya untuk diadopsi orang lain. Aku gak tau apa dia emang gak punya pilihan lain, atau dia memang gak mau direpotkan oleh anak itu. Entahlah, itu hal yang tidak terlihat, karena itu hati manusia. Tapi setauku, kalau sayang, bagaimanapun susahnya, dia tidak akan melepaskan. Bagiku ini bukan soal materi tapi kasih sayang. Ya sudah, bahas yang lain saja.

Yaudah kan, aku keluar lagi ke deket meja administrasi bareng sama ibu.

Di sisi yang lain, di waktu yang berdekatan, ada sebuah mobil mewah parkir di depan rumah sakit, keluarlah pasangan suami istri dari dalam mobil tersebut. Dengan wajah yang berseri-seri. Sepertinya saking senangnya, mereka gak sempat prepare buat mengganti baju rumah mereka dengan baju pergi.

"Dimana saya bisa lihat bayinya?" 

Perawat menunjukkan sebuah ruangan berkaca transparan. Dari jauh aku melihat pasutri itu nunjuk-nunjuk seorang bayi di dalam ruangan itu sambil memancarkan ekspresi bahagia. Gak tau kenapa, cuma lihat kayak gituan aku ngrasa terharu banget. Setelah puas lihat bayi, mereka menuju meja administrasi. Entahlah, mereka dengan petugas rumah sakit melakukan pembicaraan yang cukup berat. Hahaha. Mungkin yang anak hukum bisa mengerti, karena banyak kata-kata hukumnya. ((( kata-kata hukum ))) yang aku tau cuma

"Proses pengadopsiannya cukup simpel kan?"
"Habis dari notaris, lalu kemana? aktanya bagaimana?"

Dari kata-kata itu aku bisa tau mereka adalah orang yang ingin mengadopsi si bayi. Mereka udah ada perjanjian dengan pihak rumah sakit, kalau ada bayi yang diadopsikan suruh menghubungi mereka. Di akhir pembicaraan berat itu, calon ibu baru si bayi bilang..

"Kami sudah coba bayi tabung tiga kali, tapi gak pernah berhasil. Hari ini akhirnya, Alhamdulillah ya, Pa.."

Kemudian mereka pelukan. Terharu..
Hari ini aku juga tau, hal-hal semacam itu, kalau di rumah sakit bersalin, adalah hal yang biasa terjadi. Bahkan ada juga ibu yang baru melahirkan, kemudian kabur dari rumah sakit tanpa membawa bayinya.

Di dunia ini selalu ada orang yang tidak menginginkan sesuatu, sementara di luar sana, jutaan orang sangat menantikan dan menginginkan apa yang sangat tidak dia inginkan, atau apa yang ingin dia lepas. Hari ini aku melihat hal itu secara langsung, dalam satu tempat, dan satu waktu. Jadi, lebih masuk ke otakku yang gak pernah mikir ini. :)


















2 comments:

  1. Subhanallah sal.... ternyata yg kayak begitu nggak cuma kamu liat di sinetron doang :") semoga anaknya bahagia yah... ortu adopsi sama ortu aslinya juga... aamiin...

    ReplyDelete
  2. Aamiin.. semoga nanti pas udah dewasa, dia mau mengakui ibu kandungnya

    ReplyDelete