Friday, 14 February 2014

Bintang Jatuh, Kapan Ketemu Lagi?

Ah, telat. Seharusnya ini kukirim pada hari ke-14. Tapi kemarin hujan abu, aku merasa tak enak. Apalagi kemarin temanya surat kaleng. Aku ga paham. Jadi gini ya..

Meski kamu tidak akan pernah baca ini aku akan tetap mulai menulis. Biasanya memang begitu. Aku menulis, aku tahu kamu tidak akan baca, tapi sedikit-sedikit harapan itu muncul. Siapa tau kamu sedang iseng. Tapi ketika aku tau kamu membacanya, aku menyesal telah menulis untukmu. Jadi kalau saat ini kamu baca, tersenyum aja ya? Senyum dong. Atau kamu terlalu tidak peduli untuk melakukannya? Yaudin lah.

Kamu masih suka melihat bintang di masa-masa sibuk ini? Pernah melihat bintang jatuh? Emang beneran ya sekarang ini bintang-bintang jarang terlihat akibat polusi udara? Sekarang yang ada bukan bintang jatuh, tapi abu Gunung Kelud ang berhamburan di langit Yogyakarta.

Bintang jatuh itu sedikit mirip denganmu, hanya bisa dilihat dari kejauhan, tanpa sengaja, melalui sebuah kebetulan. Bintang jatuh meskipun indah tidak bisa disentuh, tidak bisa digapai, apalagi di tangkap seperti menangkap kodok loncat.

Aku bertemu atau melihat kamu hanya melalui kebetulan-kebetulan yang sudah diatur olehNya. Misalnya kebetulan berpapasan di dekat rel kereta api, kebetulan makan di tempat yang sama, atau kebetulan membaca buku di tempat yang sama. Itulah mengapa aku menghargai setiap pertemuanku denganmu, dan aku mengingat semuanya.

Bagiku untuk bertemu atau melihat kamu tidak bisa melalui sebuah ajakan atau janji. Bagiku kamu terlalu spesial untuk di sms "Ketemuan yok." "Eh ayo main." Itulah salah satu dari sekian banyak hal yang membedakan kamu dengan yang lainnya. Mengajak bertemu? Bertemu kamu tanpa sengaja pun aku lebih memilih menatap lantai daripada kamu. Sebenarnya aku selalu tidak sanggup dekat-dekat dengan kamu. Aku takut, itu karena ketika kamu dekat, aku selalu bisa mendengarkan suara jantungku sendiri. Bukan karena kamu menyeramkan dan terkesan aneh, tapi karena aku benar-benar suka kamu. Ngg, apesnya sih lebih dari suka. Jadi ketika aku pura-pura tidak melihatmu itu adalah suatu bentuk pengendalian diri, agar rasa senangku bisa kurasakan sewajarnya. Meskipun aku diam, sebenarnya di dalam otak dan hatiku sedang ribut. Aku juga bingung, karena sejujurnya baru pertama kali aku merasa begitu terhadap orang yang aku suka. Jangan ngira aku sombong ye..

Sebenarnya ketika melihat kamu dalam sebuah kebetulan, ada kalimat-kalimat sapaan yang bergelayutan di kerongkonganku, tapi mereka tertahan. Kaki ini ingin melangkah menuju tempatmu berada, tapi kedua kakiku serasa menjadi batu, dan pikiranmu tentang kamu yang tidak mau diajak berbicara juga berhamburan dimana-mana. Sebenarnya semua itu berasal darimana? Mungkin dari jantung yang kayak drumband anak TK waktu kamu ada di hadapanku.

Jadi sebenarnya masalahnya itu..


Eh liat itu ada nabilah! *kehilangan fokus*

Okay. Ehm.

Wahai mantan gebetan...

...
...

Oh iya, lupa. Kita cuma temen ya? Wahai teman, sebenarnya ingin bercakap-cakap denganmu lagi sebagai seorang teman kalau nanti aku sudah bisa menganggapmu sebagai orang yang biasa saja dan tidak istimewa. Aku sebenarnya ingin nggak deg-degan waktu liat kamu jadi aku nggak perlu lagi pura-pura nggak liat kamu waktu kita ketemu. Tapi ya gimana? udah aku usahain tetep aja. Rasanya kau sudah begitu jauh sekarang, apalagi nanti kalau aku udah berhasil liat kamu lagi sebagai teman? Apa kamu masih kenal aku kalau saat seperti itu akhirnya datang?

Jadi kapan kita ketemu lagi?
Nunggu takdir aja kali ya?









No comments:

Post a Comment