Friday, 21 February 2014

Impian

Aku sangat jarang bertemu kamu. Aku juga tidak tau apakah aku ini sebenarnya memiliki kamu atau tidak. Memiliki kamu itu membuat orang berjuang, karena ketika kamu nyata rasa bahagianya tak ternilai.

Mungkin aku jarang memilikimu karena hidupku tidak pernah susah, mungkin tak selalu, tapi aku sering dapatkan apa yang aku inginkan dengan mudah. Kalau cinta? soal ini aku selalu kalah lagipula aku sedang tidak cita-citakan cinta. Dan mungkin aku adalah orang yang pesimistik sekaligus pengecut, yang tidak sadar bahwa dia punya mimpi, dan dia tidak berani mengejarnya.

Kemudahan dalam segala aspek membuatku jarang bertemu dan memiliki kamu, mimpi. Jujur saja hidupku tak pernah pahit, aku berlindung di dalam tembok-tembok zona nyaman yang diciptakan duniaku sendiri. Saat ini aku memilikimu tapi aku sedang tidak bisa memperjuangkanmu, tembok-tembok zona nyaman itu memiliki beratus gembok yang harus aku cari kuncinya satu-persatu. Gembok-gembok itu mewakili semua keadaan.. ketentuan manusia-manusia lain yang menyediakan mimpi mereka di dalam zona itu, rasa malas, dan tentu saja mental yang tidak tahan banting karena jarang mengalami  kesulitan hidup.

Ah, masa depanku sudah diatur oleh beberapa manusia... Tanggung jawab di depan mata yang mau tidak mau harus aku terima. Tapi harapanku masih ada untuk bisa bersama dengan sebagian dari dirimu, impian.

Tunggu aku membuka semua gembok ini, keluar dari pintu zona nyaman, mengejar dan menangkapmu. Semoga sekelilingku membantuku menumbuhkan keberanian yang lebih.

Aku terakhir kali benar-benar merasakan kehadiranmu saat kamu menuntunku menggapai sekolah menengah atas yang kuinginkan, melalui usahaku aku menemukan wujudmu yang nyata wahai impian, kau begitu indah.

Semoga suatu saat kita bertemu lagi.

Buat Dina, Din.... akhirnya aku bisa nulis surat buat benda maya. Meskipun tidak berbentuk.. Sing penting ketok pie ngono.

1 comment:

  1. hahahaha pokok nya ditunggu suratnya buat si senja

    ReplyDelete