Friday, 7 February 2014

Pengemis Jokteng Kulon

Setiap aku melintasi lampu bangjo di perempatan Jokteng Kulon, Yogyakarta.. Kamu selalu ada, berdiri di trotoar pembatas jalan yang berlawanan arah. Bajumu yang lusuh penuh dengan cemang-cemong bekas oli, entah apa yang kamu lakukan seharian sebelum mengemis. Ketika aku mengendarai motor, bisa terlihat jelas olehku betapa sayu wajahmu. Matamu merah, air liurmu menetes-netes, hidungmu tak henti-hentinya mengeluarkan ingus cair. Apakah kau menggunakan barang haram itu?

Interaksi kita akan semakin dekat ketika aku mengendarai mobil. Karena kamu selalu mengemis kepada orang-orang yang mengendarai mobil. Jika aku menggunakan mobil, aku jadi lebih takut melihatmu mendekat. Aku hafal kebiasaanmu satu ini... Kamu akan mengetuk kaca mobil, mengatakan jika kamu belum makan tiga hari, kemudian ketika aku melambaikan tangan, kamu akan menempelkan wajahmu di kaca mobilku kemudian meneteskan air liurmu. Sekali dua kali aku akan memberimu beberapa receh atau selembar uang, tapi ketika aku tidak memberi, betapa pintarnya caramu merajuk. Mungkin kepintaranmu dalam merajuk adalah hasil dari desakan hidup pahit yang setiap hari kamu jalani.

Kamu tau betapa aku takut melewati jokteng kulon menggunakan mobil karena kamu? apalagi ketika kamu meludahi kaca mobilku. Pertemuanku denganmu selalu melatih kesabaranku. Meskipun begitu aku berterima kasih padamu karena tidak menggores bodi mobil orang tuaku dengan sebuah kunci, seperti yang pengemis di pangkalan lain lakukan. Air liurmu masih bisa kucuci sendiri.

Sebenarnya meskipun aku takut, ada sebersit rasa iba. Tubuhmu sehat dan lengkap, tapi kau dikuasai kemalasan. Menurutku kau masih bisa mencari pekerjaan yang jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan mengemis. Aku tidak memberimu bukan karena aku tega, justru karena aku kasihan kamu menggantungkan hidup pada pemberian orang dan tetap bermalas-malasan.

Di satu sisi, saat aku mengamatimu dari dalam mobil dengan perasaan takut.. ada rasa bersyukur yang tumpah ruah. Hidupku sangat jauh dari apa yang sehari-hari dialami olehmu. Aku tidak tau hal menyeramkan apa saja yang kau hadapi dengan tetap kuat, selain rasa lapar dan haus yang dahsyat. Ketika aku ingin mengeluh karena makanan di rumahku tidak enak, koneksi internetku yang lambat, terkadang aku ingat kamu yang kelaparan di pinggir jalan dan mungkin tidak pernah menyentuh internet sama sekali. Maka kemudian, aku bersyukur.

Alhamdulillah.
Oh iya, maaf aku tidak setiap hari memberimu uang. Maaf hanya kadang-kadang. Sekarang semakin jarang, karena aku lewat ringroad selatan. Hm.



No comments:

Post a Comment