Saturday, 1 February 2014

Rumah Coklat

Rumah coklat di Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta. Kecil dan mungil, makananmu mahal-mahal. Aku mengunjungimu hanya sekali, tapi untuk tujuan yang tidak akan terlupakan. Wahai rumah coklat, kenapa kamu sering tutup ketika aku melintasimu dan berniat untuk memasukimu? Kamu sudah seperti hati orang yang pada waktu itu aku temui di terasmu.

Ketika aku ingin masuk, pintu tokomu akan tutup. Ketika aku makan di tempat lain, pintu tokomu akan buka dan terlihat ceria. Wahai rumah coklat, dalam urusan ini, kamu sama halnya dengan seseorang yang dulu kukenal sangat dekat. Caramu membuka dan menutup pintu tokomu seenaknya, sama dengan dia yang membuka dan menutup pintu hatinya seenaknya. Begitulah, jadwal buka dan tutupnya hati dia selalu tidak sesuai dengan posisiku. Dia selalu membuka hatinya saat aku menginjakkan kaki ke hati orang lain. Kami tidak pernah bertemu.

Biar kuingat-ingat... Aku sudah lupa. Aku lupa sejak aku benar-benar jatuh cinta pada orang selain dia. Aku lupa kenapa dulu aku bisa begitu mencintai manusia itu. Tapi yang jelas, seandainya waktu itu kami bertemu dan saling jatuh cinta, bagiku sebuah hubungan tidak akan pernah mungkin. Dulu ketika aku mengingatnya aku akan sedih, sekarang hanya bisa tertawa.

Seperti salah satu menu coklatmu yang awalnya manis, tapi lama-kelamaan menjadi eneg dan pahit, harus segera disudahi sebelum muntah, meskipun harganya mahal. Sama seperti dua orang yang jatuh cinta, kemudian sadar mereka punya perbedaan yang cukup besar dan mutlak. Aku hanya takut melintasi batas perbedaan itu. Sebab semakin dekat dia semakin bersinar, begitu erat memeluk dan mengerti seisi duniaku.

Rumah coklat, aku tidak mengingatmu setiap hari tapi kamu akan terkenang, tapi aku tidak janji akan selalu mengenangmu... Tempat pertemuanku bersama manusia itu. Salah satu masa lalu yang cukup memberikanku banyak pelajaran.

2 comments:

  1. Wahai rumah coklat. Terimakasih telah mempertemukan saya dengannya di sore yang sangat unyu dan tidak terlupakan itu.
    Nggak paham lagi kenapa bisa samaan kayak gini Sal......

    ReplyDelete