Sunday, 15 February 2015

Baper Cuma Gara-Gara Novel



Ini novel bikin aku baper setengah mati. Kemana aja aku selama ini sampai baru sekarang ini aku baca novel bagus kayak gini? Mungkin aku manusia goa karena baru baca novel ini sekarang. Ya seperti yang kalian ketahui, novel ini berkisah tentang empat orang sahabat,

Keara, Harris, Ruly, dan Denise. Dikemas dalam bahasa yang cerdas banget. Menurutku bikin ngakak iya, bikin nancep di hati juga iya, terus bikin aku bisa ngelihat gimana gaya hidup orang-orang banker internasional macam mereka berempat. Jadi bikin pengen kerja kayak mereka kan.. Tu kan.. ngayal kan.

Disana ada satu paragraf dalam sudut pandangnya si Keara yang dia bilang kayak gini:


"How can we be so different and feel so much alike?
The sentences reminds me of Ruly. Aku sadar di saat kita sedang jatuh cinta, anything would remind us of everything. Its just the way our mind trick us."

"Orang yang jatuh cinta itu kreatif dalam mencari pembenaran. Pembenaran kenapa mereka masih cinta padahal udah tau perasaannya gak berbalas."

Intinya waktu membaca novel ini aku bener-bener merasa Keara banget. Keara dengan perasaannya terhadap Ruly, sahabatnya yang-180 derajat beda gaya hidup dan kepribadian dengannya. Pokoknya perasaan Keara ditengah perbedaannya dengan Ruly yang 180 derajat itu digambarkan dengan sangat BIKIN BAPER ya dalam novel itu. Aku sampe... Ugh, sampe.... Ga tau lagi harus bilang apa selain berkali-kali bilang kalimat yang sama semacam:

"Eh, asem banget ya, paragraf ini aku banget."

Terus aku merasa semesta menertawakanku.
Aku emang gak player dan hobi mabok kayak Keara sih. Nakalku bukan pada level setinggi itu. Tapi aku sadar betapa amburadul dan kacaunya diriku ini, dan itu dalam level yang dibawah Keara banget. Intinya walaupun setting dan umur mereka gak sama kayak aku, tapi konflik batinnya senasib banget kayak aku. Ya maaf kalau alay. Biarin aja lah.

Dalam hidupku kadang aku juga punya sosok kayak Harris sih, Harris yang perasaannya gak pernah "diliat" sama Keara gara-gara dia cinta mati sama Ruly. Padahal kalau dipikir-pikir pake logika, yang lebih cocok sama Keara itu ya Harris. Meskipun aku gak oke dan iuh banget, tapi iya, itu aku banget, gak jarang aku punya orang yang di mataku posisinya udah kayak Harris..... gara-gara perasaanku sukanya bodoh. Tapi perasaan emang selalu bodoh, kan dia bukan otak, jadi gak mikir logika.

Yang paling aku suka waktu Harris mati-matian menyadarkan Keara tentang keberadaan perasaannya, bahwa Keara itu, yang dinamain Harris sebagai "Keara cinta gue" itu, deserve better daripada Ruly yang terlalu naif menyadari perasaannya Keara dan malah cinta mati sama Denise-yang udah menikah.

Harris waktu itu  berkata:
“You deserve better, Keara."
Dan dalam pikiran si Keara dia bilang : "I know I deserve better. But my fucked up heart and mind keep telling me that I don't want better. I want Ruly."


Aku setuju banget.
Kadang kita gak butuh orang yang lebih baik, Itu yang sering manusia-manusia bijak katakan sama manusia-manusia gagal move on di luar sana yang berceceran hatinya kayak kulit kacang rebus.. "Kamu pantas bersama dengan yang lebih baik." Tapi ya begitulah, otak memang tahu kita pantas dapat yang lebih baik, kita juga tahu kita tidak seburuk itu, tapi ya itu tadi....

Kadang kita cuma ingin bersama dengan orang itu saja. Otak berkata ada yang lebih baik pun, hati sudah tidak peduli lagi.

Dan yang paling bikin "ampun bos" itu yang ini...

“Karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak ada apa-apanya. So maybe there is something between us."


No comments:

Post a Comment