Sunday, 15 February 2015

Sahabatku Dina, dan Segala Tawanya

Kepada @dinaaul
Surat ini adalah surat pertamaku di #30HariMenulisSuratCinta dan kamu adalah penerima pertama. Sebelum surat ini ku mulai, aku ingin mengingatkanmu tentang kejadian pada suatu sore, tepatnya kemarin sore.

"Din.... Hapeku ketinggalan dimana ya? Kok gak ada? Mampus.. Mampus..."
"Di tas?"
"Kagak ada."
"Di kantong?"
"Kagak ada..."
"Inget-inget dulu deh."

Hari itu pertemuan pertama kita setelah jadwal libur kampus kita yang nggak pernah sinkron. Harusnya, meskipun singkat tapi bisa tertawa-tawa bersama.

Seperti biasa, Dina. 
Kamu selalu menyaksikan betapa seorang Salsa banyak sekali melakukan kesalahan, yang mungkin kalau itu bukan kamu, orang itu akan kesel banget sama aku dan badmood seharian. Kamu adalah satu-satunya sahabatku yang aku kenal singkat, tapi berhasil membuatku cocok, kemudian kamu mengetahui semua aib-aibku, juga gak ketinggalan, prestasi-prestasiku-yang jarang ada.

"Kamu jangan putus asa putus harapan sebelum kamu sampai kamarku dan memastikan apa bener hapemu ada di sana atau enggak."

"Aku udah ngebayangin nih... Bakal pake hape lamaku."

"Feelingku hapemu di kamarku."

"Tapi aku nggak ngeluarin hape di kamarmu tadi."

"Udah to, hapemu tu di kamarku. Tenang ya?"

Akhirnya sore itu adalah hari dimana aku merasakan "perfeit matcha" kesukaanmu dengan sangat hambar. Beginilah aku kalau panik, Dina. Untung kamu sabar, Din. Kamu cuma tertawa lebar-lebar sambil sesekali menampari mukaku yang sudah jelek sekali sore itu..... Gara-gara panik tidak menemukan hapeku di mana pun. Sementara di hapeku, kamu tau, kepentinganku ngevent di kampus semuanya ada di dalam hape itu.

Dengan durasi bersantai yang sangat sedikit akhirnya kita kembali ke rumahmu, benar, sore itu sekali lagi kamu menonton kesalahan dan ketololanku. Benar, hapeku yang segede gaban itu, tergeletak dengan manisnya di kasur kamarmu.

Aku ingin mati saja. Saking leganya aku lemas dan kayak mau mati.
Ingin menangis tidak kuat menghadapi ke pelupaan dan ke cerobohanku itu.
Tapi kamu hanya tertawa dan tertawa lagi sambil membodoh-bodohiku. Sampai akhirnya aku ikut tertawa. Cara ini selalu berhasil kamu terapkan untukku kalau aku sedang kesal. Tertawamu itu, entahlah apakah itu suatu hal yang sangat berantakan dan menyeramkan atau apa, tapi aku tidak peduli, suara tawamu yang bagai suara ayam dikejar-kejar penyembelih itu selalu... Selalu menulariku untuk tertawa, tidak peduli sesedih dan sekesal apa diriku ini.

Mungkin kalau itu bukan kamu, setelah aku membuat ketololan dan menyebabkan nongkrong-nongkrong di cafe hits menjadi tidak asyik, aku tidak akan ditawari makan dengan lauk ikan tuna kecap saus pedas dan disuguhi trik sulap kartu remi yang kamu agung-agungkan yang katanya harus punya indra keenam dulu baru bisa. Gak tau kalau sahabat lainnya bakalan gimana, tapi aku always suka caramu menghiburku, Din.

You are my favourite pink cotton candy,
Iya, cotton candy. Gulali. Kayak bentukanmu di instagram Vida. Buntelan di depan pasar awul-awul.... yang memakai jaket pink, kerudung pink, tersenyum dengan jari membentuk lambang peace. You're welcome.

"Din, aku mau foto di cafe hits ini, dengan background ini.."
"Tapi kamu pakai sendal jepit, Sal.. Yaudah gapapa ya?"
"Yaudah ah aku mau ganti dulu sepatuku ada di jok motor."
"Lho..."
"Eh iya... kunciku mana?"
"......Kamu kan..."
"Oiya... Motorku..."
"KAMU KAN BERANGKAT KESINI NEBENG AKU SAL HUAHAHAHA BUEEE-GOK"

Saking serunya ngobrol sama kamu, aku sampai sering lupa gitu. Sorry gombal. Meski begitu lambat dan dungunya aku, kamu tetap mau jadi temanku.

Yang paling berkesan tentang bagaimana idemu membahagiakan teman adalah, saat itu, saat aku merasa jadi orang paling rapuh dan menjijikkan sedunia... Aku gak akan pernah lupa.

Waktu acara apa itu pas di JEC. Hari dimana orang selucu, secuek, sebatu dan sehumoris ini.... bisa-bisanya dibiarkan skenario semesta untuk merasa sangat melankolis sehingga aku jadi lemah, oh, ya, dan aku merasa kesal dengan diriku sendiri karena masih merasa bahagia karenanya. Jadinya waktu itu aku tidak peduli lagi ada kamu, atau Lala yang sedang kebingungan menatapku yang diam seribu bahasa tanpa ekspresi apa-apa.

Terima kasih, Dina.
Walaupun idemu adalah menebar bunga tabur kuburan ke sungai, lewat sebuah jembatan, dan ada kake-kake boker yang ngliatin kita dari bawah sambil melongo.... Itu membuatku tertawa lagi. Kamu menindih kenangan yang mungkin paling melankolis itu... dengan cara penghiburanmu terhadapku yang out of the box (yang tidak akan dilakukan oleh sahabatku yang manapun) 

Sehingga, yang aku ingat dari tanggal itu sekarang bukanlah bagaimana hari itu membuatku merasa sangat melankolis dan sentimental tapi yang kuingat cuma kejadian tebar bunga itu bersamamu. Lalu bagaimana kita tertawa karenanya. Mungkin itu hal paling absurd yang pernah aku lakukan seumur hidupku, tapi aku gak bakal lupa kok, Din. Tentu saja, tidak ada motivasi dari aksi tebar bunga tersebut. Tentu saja tidak sama sekali tapi.... Ah, sudahlah. Aku mengetik sambil tertawa sekarang. Aku cukup terharu dengan kerelaanmu membuat urat malumu tambah R.I.P (atau emang udah R.I.P beneran) untuk membuatku tertawa.

Terima kasih, Dina, untuk semua hiburanmu yang selalu out of the box. Kamu memang sering tidak tahu malu, faktanya emang urat malumu itu udah R.I.P, tau?! :))

....Tapi tetap, I love you very much. 
Tetap bersahabat denganku ya, Dina.






2 comments: