Saturday, 30 January 2016

My Hero



Biasanya kalau nulis surat buat orang tua, kebanyakan nulis buat ibu. Tapi aku mau nulis surat buat bapak.
Aku jarang ngobrol lama sama Bapak, soalnya bapak sibuk. Kalau ada di rumah, bapak pasti langsung tidur karena capek kerja seharian. Aku dan bapak semakin jarang ketemu karena umurku yang semakin bertambah, semakin bertambah umur semakin aku punya banyak kegiatan, semakin banyak hal-hal di luar sana yang ingin kucoba, dan semakin banyak hari terbuang untuk ada di luar rumah.

Setiap melihat bapak di rumah, aku cuma memperhatikan rambut bapak. Entah kenapa harus rambut. Rambutmu kian memutih, pak. 

Maafkan aku yang belum bisa berbuat apa-apa untuk membuatmu bangga. Sampai saat ini aku cuma bisa membuatmu tersenyum melalui IP yang cemerlang. Aku belum berhasil membuat bangga dengan cara lain. Mengingat jurusan yang aku jalani saat ini adalah bukan pilihanku namun pilihanmu, aku sudah merelakannya. Aku sudah bahagia, ternyata tempat itu tidak seburuk dugaanku. Aku bisa mengikuti segala yang ada di dalamnya dengan baik, dan aku juga menjadi anak yang diandalkan di sana. Aku juga mulai menemukan bayangan, menemukan keinginan-keinginanku untuk masa depan dengan semua yang aku jalani di sana.

Bapak, aku tau meskipun bapak terlihat dingin dan cuek, bapak sangat mencintaiku.

Itu ketika bapak langsung ambil flight tercepat dari Makassar ke Jogja saat aku pingsan di sekolah dan masuk rumah sakit,

Itu ketika bapak mentransfer uang jajan lebih dari kebutuhanku,

Itu ketika bapak cuti seminggu untuk menemaniku yang sakit-sakitan terbaring di rumah sakit,

Itu ketika bapak menerobos berbagai lampu merah untuk membawaku ke rumah sakit waktu dulu aku sering pingsan,

Itu ketika bapak diam-diam membuka pintu kamarku dan ingin tau apa yang sedang aku lakukan di dalam kamar,

Itu ketika bapak meninggalkanku yang baru saja keluar dari ruang operasi karena gak tahan melihat keadaanku,

Itu ketika bapak mengambil rute berbeda yang lebih jauh setelah pulang kerja dan membeli bunga yang aku dan teman-temanku jual saat penggalangan dana charity supaya aku tidak pulang terlalu malam dan akhirnya membuat diriku sakit lagi,

Itu ketika bapak membelikanku dua arum manis ketika aku hanya minta satu, dan semua hal yang aku hanya minta sekian bapak kasih sekian banyak.

Dan masih banyak lagi. Udah ah males sentimental.

Bapakku memang tidak punya banyak waktu. Susah diajak liburan, susah diajak ngobrol lama, selalu sibuk dengan handphone atau laptopnya, ketika pulang pasti langsung tidur, ketika weekend lebih sering mengurus kepentingan klien,

Memang waktu bapak tidak selalu luang, tapi aku tau bapak akan selalu ada ketika aku membutuhkan, dan aku tau bapak mencintaiku lebih dari apapun.
Aku tidak pernah merengek lagi seperti waktu kecil. Semakin bertambah umur aku semakin mengerti. Orang tua memiliki cara sendiri-sendiri untuk menunjukkan kasih sayang pada anaknya.

Aku mencintaimu, Bapak. Secuek apapun kelihatannya, aku mencintaimu.



2 comments: