Monday, 8 February 2016

Bukan Surat Cinta

8 Februari 2016
17.00

My dearest grandmother passed away. Bagiku beliau adalah orang yang sangat penyayang dan berhati lembut. Aku cukup dekat dengan beliau, semasa kecil ketika aku sering sakit-sakitan beliau selalu ikut menemaniku di rumah sakit, dan semasa libur panjangku ketika SD dulu aku sering menghabiskan seluruh waktu liburku di rumah simbah.

Sebelumnya simbah sudah terbaring koma selama 4 hari di ICU. Aku jadi ingat aku pernah masuk ICU sekali waktu aku SD, dan aku masih ingat aku selalu mengatakan ketidaksukaanku terhadap ICU kepada simbah, saat simbah masih sehat. 

Bagiku ICU adalah ruangan yang auranya sangat menyedihkan, dan baunya menyeramkan. Namun saat aku tidur di lorong-lorong ICU yang sunyi dan dingin untuk menemani simbahku berperang melawan penyakitnya, aku melihat banyak hal yang bermakna.

Menurutku ICU adalah tempat seseorang berada di antara tetap tinggal di dunia ini, atau berangkat menuju kehidupan selanjutnya. Tempat seseorang berada di antara dua pilihan itu. Sedikit mirip dengan bandara.
Menurutku, di tempat itu, lebih banyak orang yang memanjatkan doa secara sungguh-sungguh di tempat itu daripada di masjid, musholla, gereja, atau tempat ibadah lainnya. Di lorong sunyi dengan aura penuh kesedihan itu, aku banyak bertemu dengan orang-orang kuat yang terus berdoa dengan tulusnya tanpa ada putus-putusnya.

Setiap malam, aku selalu mendengar orang-orang membaca Al-Qur’an dengan suara yang terdengar sangat tulus, meskipun tersengal dengan isak tangis disela-sela bacaan Al-Qur’an.

Banyak harap yang terbaca dari tatap mata sendu orang-orang yang tidur di lorong ICU. Berharap dengan doa-doa yang dipanjatkan, bisa menunda waktu keberangkatan, atau memperpanjang waktu seseorang berada di dunia ini karena merasa masih banyak kata yang belum sempat terucap atau hal-hal yang belum dilakukan bersama-sama dengan orang itu. Semua itu terbaca ketika di tengah tidurku yang tidak nyenyak, telingaku mendengar cerita-cerita dari berbagai keluarga tentang berbagai kenangan baik yang telah diciptakan istri, suami, anak, atau salah satu keluarga mereka selama mereka ada di dunia ini.

Di ruangan itu banyak sekali orang-orang yang kuat. Orang-orang yang terus berdoa sepenuh hati untuk harapan-harapan mereka.

Meskipun harapan mereka berkali-kali dipatahkan setelah mereka kembali dari ruang konsultasi keluarga pasien, meskipun dokter berkata kemungkinan harapan itu akan terwujud hanya satu persen, meskipun berkali-kali mereka kembali dari ruang konsultasi tersebut sambil menangis dan akhirnya pingsan.. Tetapi mereka tetap berdoa untuk satu persen itu.

Namun pada akhirnya, seberapa banyak doa itu terucap kita tetap harus menerima apapun takdirNya.

Ketika dokter berkata bahwa keluargaku harus mempersiapkan diri karena simbahku sedang menunggu waktunya tiba, ketika melihat keluargaku berkumpul di depan kaca ICU yang terletak di samping bed simbahku, aku merasa tidak jauh beda ketika sedang mengantar simbah ke bandara untuk naik haji. Sama-sama menunggu waktu keberangkatan simbah, tapi bedanya tidak ada senyum sedikit pun dari wajahku.

Jam setengah 4 sore, ketika seluruh angka-angka monitor ICU yang tidak aku pahami itu terus menurun, aku memasuki ruangan ICU tempat simbah berbaring. Aku memegang tangan beliau, sambil berbisik di telinganya, menyampaikan maafku dan terima kasihku untuk beliau. Baru saja aku akan melangkahkan kaki keluar dari ruangan, alat-alat itu berbunyi sambil berkedip-kedip, dan angka-angka di monitor yang entah apa itu semakin mengecil

50...
47...
40... itu yang mataku ingat, dan aku ingat betapa sedih dan paniknya aku waktu itu.

Perawat ICU memanggil seluruh anak dan cucu simbah selain aku, dan tentunya simbah kakungku. Kami semua mengantar simbah berangkat menuju kehidupan selanjutnya dengan bacaan talqin.

Sampai hari ini masih terbayang-bayang detik-detik itu, kalimat "Mati itu kapan saja" jadi langsung meresap ke hati.

Selamat jalan simbah, kini simbah telah tenang di sisiNya. Cucumu ini sudah ikhlas dengan kepergianmu supaya tidak menyulitkanmu di kehidupan selanjutnya.



1 comment:

  1. innalilahi wa innailaihi rajiun. ikut berduka sal :(
    Semoga simbah diberi tempat terbaik disisi Allah. aamin

    ReplyDelete