Wednesday, 3 February 2016

Kepada Cinta Pertamaku



Kepada cinta pertamaku, yang tidak tahu kalau dirimu adalah cinta pertamaku, yang kuberi nama salah satu jenis makhluk laut, 

Hai cinta pertamaku, tiba-tiba aku ingin menulis surat tanpa diksi mewah ini untukmu.
Kamu memang bukan orang pertama yang aku suka, tapi selama mengenal kamu dulu, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali pada seseorang meskipun aku telah mengetahui sebagian besar sisi buruk dari orang itu.

“Hubungan seperti apa?” “Sedekat apa?” “Siapa dia? Mantan?”
 
Pertanyaan sama dari berbagai mulut setiap aku memulai hubungan dengan seseorang. Aku selalu kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan aku sudah terlalu bosan dengan pertanyaan semacam itu. 

Kamu cinta pertamaku, orang yang selalu tidak mau aku bahas dalam-dalam dengan sang gebetan baru. Hubunganku di masa lalu dengan kamu sebagai apa? Entah.

Entah, yang ku tahu, di masa lalu kamu seperti sebuah rumah dengan pintu yang selalu terbuka jika aku mengetuknya. Sejauh apapun aku pergi, se lama apapun, dengan atau tanpa seseorang, pada akhirnya aku tetap kembali padamu karena aku tahu kamu selalu ada.

Entah, yang ku tahu seberapa banyak kamu berkata kalau kamu membenciku, berkata kamu sudah jatuh cinta pada orang lain, pada akhirnya kamu akan kembali padaku lagi dan berkata kamu merindukanku dan kamu membutuhkanku.

Entah, yang ku tahu di sore atau malam hari kamu akan menekan nomor telepon rumah atau handphoneku yang sudah kamu hafal di luar kepala dan bercerita tentang apa saja sampai kadang aku ketiduran mendengarkannya.

Entah, yang ku tahu kamu akan datang lagi padaku dan berkata “aku cuma punya kamu.” atau “jangan pergi” ketika tekadku sudah mulai bulat untuk melepaskanmu, ketika aku dekat dengan orang lain, dan sebagainya. 

Di tengah segala sisi burukmu yang bikin pengen muntah aja, kamu juga sudah berhadapan secara langsung dengan berbagai sisi burukku tapi kamu tetap kembali berkali-kali, dan menahanku pergi berkali-kali. Pada akhirnya, lagi-lagi aku lebih memilih kamu yang sudah terlalu mengenalku daripada orang yang baru beberapa bulan “dekat” denganku. 

Three years of my wasted life, dihabiskan dengan menjadi orang yang dicap sebagai Pemberi Harapan Palsu karena jatuh cinta padamu dengan sangat bego. Bagaimana pun itu aku tidak pernah menyesalimu sebagai sesuatu yang pernah terjadi di masa laluku, paling cuma bilang “TAIK LAH” ketika teman-temanku membahas kamu.

Baiklah, aku menulis surat ini karena aku tidak pernah jatuh cinta sejak 4 tahun yang lalu.. Pengen nulis cinta-cintaan dan aku ga tau mau nulis cinta-cintaan ke siapa. Tentu saja itu bukan karena kamu...

Kamu pasti masih ingat, alasan kenapa setengah mati aku berusaha merelakanmu. Di tengah proses merelakanmu yang cukup berat itu, aku jatuh cinta dengan sangat pada orang yang tidak jatuh cinta padaku. Aku jatuh cinta sampai aku melupakanmu. Tujuanku tercapai, tapi aku harus membayarnya dengan patah hati yang sakitnya minta ampun. Ketika aku ingin jatuh cinta lagi, tiba-tiba aku sudah malas jatuh cinta. Aku juga sudah tahu ternyata banyak hal yang lebih menarik selain jatuh cinta. Ya begitulah kira-kira.

Hai cinta pertama, tidak mungkin dengan segala hal yang pernah kita lewati, kita bisa kembali mengenal sedekat dulu. Itu sudah hukum alam, iya kan? Mengenalmu dengan jarak seperti ini ternyata lebih menyenangkan. Ini sewajarnya dan secukupnya. 

Baiklah cinta pertamaku, sekian suratku yang tidak bermain diksi, sekian surat berantakan yang ditulis asal-asalan. Aku ingat dulu kamu sering baca blogku, aku ga khawatir kalau surat ini dibaca oleh kamu langsung, karena kita udah ga se”kenal” itu, paling kamu kalau berekspresi cuma senyum atau ngakak doang sampai lesung pipimu keliatan.





No comments:

Post a Comment