Sunday, 14 February 2016

Postingan Banyak Tanya

"Halah, paling kalo lo gak eksis dan berduit gak bakal ada yang mau temenan sama lo kelakuan lo kek sampah gitu ew get lost"

Ada anon yang bertanya seperti ini ke salah satu public figure di platform ask.fm. Bukan, selebask nya bukan aku. Yakali masa aku? Sebenarnya itu pertanyaan yang tidak perlu digubris tapi ternyata ask anonim tidak berkelas itu menuntunku untuk memikirkan sesuatu. Ya, seperti biasanya aku selalu begini.

Seandainya aku tidak diberi rejeki uang jajan berlebih dari orang tua untuk akses bermain ke sana sini, seandainya aku adalah anak yang ansos sehingga sedikit sekali yang kenal aku, seandainya di dunia perkuliahan aku adalah anak yang ansos organisasi, lambat dalam menangkap sesi mata kuliah, selalu jadi parasit teman-teman untuk urusan tugas kuliah dan aku bukan anak yang diandalkan kalau ada tugas... Seandainya di dalam diriku tidak ada keuntungan apa-apa selain baik dan buruknya sifatku..

Siapa aja ya yang masih mau temenan sama aku diantara sejumlah orang iyang sekarang mengaku sebagai temanku? Just thinking sih. Ketika aku ada di posisi terbawah dalam hidup, siapa aja ya yang gak kabur dan tetap mau jadi temanku? Haha.

Sebenarnya meskipun aku terlihat tolol dalam keseharianku, aku adalah orang yang pemerhati dan sensitif. Aku bisa merasakan kalau candaan seseorang itu akan menyakiti hati orang lain, aku bisa merasakan kalau dalam diamnya seseorang dia sedang marah, sedih, atau senang...

Aku juga bisa merasakan mana orang yang tulus berteman denganku dan mana yang cuma ingin mengambil "hal-hal menguntungkan" saja dari aku. Sekali lagi, meskipun aku terlihat tolol dan gesrek otaknya, di otakku selalu ada dua list nama

Teman yang tulus berteman denganku, dan orang yang hanya ingin enak-enaknya aku saja. Halah, enak-enaknya. Tentu saja list tersebut hanya aku yang tau, ya demi ketenangan duniaku kan? Karena isinya tidak terduga.

Menurutku orang yang memanfaatkan orang lain itu nggak salah juga, karena itu dibutuhkan dalam kehidupan ini. Lagipula, terserah masing-masing orang siapa yang akan jadi temannya sungguhan dan siapa yang cuma akan dia jadikan alat untuk mencapai keuntungan saja. Maka dari itu aku tetap care pada dua golongan tersebut karena aku yakin yang memanfaatkanku juga bisa memberi manfaat positif di aku kalau aku melihat peluang dan menggunakannya.

Aku care sama semuanya apapun motif orang itu ada di dekatku, tapi aku bisa lebih care lagi sama yang tulus berteman denganku. I'll give all of myself tanpa perhitungan lagi. Ya begitulah, aku bisa cinta buta pada siapa saja yang selalu ada di sampingku dan mensupportku bahkan disaat-saat terburukku, dengan sifat burukku.

Masalah memanfaatkan, aku pun juga punya list orang yang hanya kumanfaatkan dan aku tidak minat untuk menjadi teman susah dan senang orang tersebut. Kalau menurutku ya emang kenyataan hidup tu kayak gini, nggak semuanya bisa berteman beneran sama kamu.

Yah inti dari tulisan mboseni dan bertele-tele ini adalah, kalau aku tidak punya keuntungan duniawi apapun selain baik dan buruk diriku, siapa saja yang masih bertahan di sisiku dan jadi temanku? apakah orang-orang yang kuanggap tulus ternyata akan menghilang? atau orang-orang yang selama ini kuanggap hanya memanfaatkanku malah bertahan di sampingku? Atau apakah semua list yang aku tulis di otak tepat sasaran?

Aku jadi teringat di masa lalu saat SMP dan aku masih mendes, aku pernah punya masalah level anak remaja labil dengan seseorang, iya memang benar dia yang bikin masalah duluan dan aku tidak bersalah. Tapi sebenernya dia juga tidak salah. Apa yang bisa disalahkan dari dia yang mengobrol akrab dengan seseorang yang sudah dilabel "dekat" denganku? Toh bukan pacarku.

Aku diem aja tapi ya cemburu sih. Tapi ya diem aja sambil sedih mellow dalem kamar HAHAHAHA LOL ISIN.. mau marah emang apa haknya gitu loh hahahahahanjay alay banget.

Hari demi hari mayoritas orang di sekolah menghujat dan memojokkan dia. Tiba-tiba, banyak orang yang tadinya gak begitu kenal sama aku ikut membelaku dan memojok-mojokkan dia. Aku waktu itu sempet mikir, orang-orang membelaku segitunya karena apa? Apakah karena menurut mereka aku orang yang baik hati atau karena hal lain yang ada di aku aja? Habis ini apa yang mereka inginkan dariku? Aku berada di zona abu-abu yang nggak tau mana jawaban yang benar diantara semua atau itu. Seiring berjalannya waktu tapi aku tau sih, mana yang cuma mau caper dan mana yang mbelain beneran. Hehe.

Aku sempet agak trauma tu. Haha soalnya aku dicap mengerikan padahal aku tu aslinya diem aja. Meskipun pada akhirnya aku meluruskan masalah tidak kelas dan alay itu dengan sama-sama minta maaf atas ketidaknyamanan tersebut, orang itu sempet bilang "Makasih ya mbak gara-gara punya masalah sama kamu, aku jadi tau siapa aja yang temenku beneran."

Kalimat itu masih membekas sampai sekarang.

Kenapa di dunia ini orang seperti bawang? People like onion, onion has layers. Oke ini ga nyambung..
Ada ngga sih cara lain selain "jatuh" untuk mengetahui siapa saja orang tulus yang ada di sekitar kita? Mungkin itu lah hikmah dari "jatuh", you will see siapa yang tulus ke kamu, seperti bintang yang hanya akan terlihat ketika keadaan bumi benar-benar gelap tanpa lampu kota. Heleh.

3 comments: