Thursday, 4 February 2016

Simbahku yang Kuat

Kupegang tangan keriputmu yang dipenuhi jarum dan selang, matamu menatapku dengan sayu tapi senyum masih tersungging di wajah pucatmu

"Kuliah sing pinter ya, aja lali ngajine."
(kuliah yang pinter ya, jangan lupa ngajinya)

Saat itu juga aku berpamitan untuk pulang ke Jogja. Dua hari kemudian di saat aku sedang menikmati hari liburku, aku tiba-tiba lemas karena mendapat kabar kalau simbah sedang terbaring koma.

Simbah yang selama ini bergelut dengan penyakit, simbah yang menghadapi penyakit dengan senyum dan tidak pernah mengeluh. Tidak pernah sedikitpun aku mendengar simbah mengeluh. Simbah begitu kuat, semoga kali ini simbah juga kuat.

Hening menyelimuti suasana di dalam kereta Malang ke Yogyakarta malam itu. Semua agenda liburan langsung kucancel, dan aku tidak peduli. Aku cuma bisa menatap kosong pada pemandangan di luar kereta.

Teringat masa kecilku sering kuhabiskan berlibur di rumah simbah. Simbah akan membuatkanku sarapan yang enak-enak, membelikanku jajanan pasar yang enak, menjahitkan baju untuk boneka-boneka barbieku. Sebelum aku tidur simbah akan mendongeng tentang wayang dan memperagakan dengan tangannya. Simbah sangat pandai berinteraksi dengan anak kecil sepertiku karena simbah memang kepala sekolah TK.

Teringat langkah kaki kecilku yang berlari dengan cepat karena hatiku yang sangat senang, aku menuju ke teras rumah dengan tergesa-gesa ketika simbah datang ke rumah untuk menemaniku selama beberapa hari atau bahkan bulan. Simbah pasti menemaniku dan adikku ketika kami akan ditinggal bapak dan ibu ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Dengan senang hati akan menginap di rumah kami tanpa kami harus merengek. Ketika simbah datang aku dan adikku tidak kesepian di rumah, dan suasana rumah tetap menyenangkan.

Teringat ketika simbah harus kembali ke rumah simbah, atau aku yang harus balik ke Jogja, aku pasti nangis.

Aku jadi ingat dulu aku bodoh sekali waktu kelas 2 SD karena tidak bisa menulis askara jawa meskipun udah berkali-kali diajarin sama bu guru, tidak bisa membaca jarum jam, bapak dan ibu sempat habis kesabaran mengajariku. Simbah datang dengan senyum teduhnya menghampiriku yang putus asa, mengajariku melalui metode yang menyenangkan, melalui crayon berwarna dan pensil warna. Aku jadi tertarik belajar kemudian aku bisa menguasai apa yang sebelumnya tidak bisa kulakukan.

"Tinggal menunggu mukjizat." Kata dokter yang mengoperasi simbah kemarin.

Setelah mendengar kabar bahwa setelah operasi, hanya alat ICU yang membuat simbah tetap bernafas... berbagai pikiran buruk terus hinggap di pikiran. Aku takut tapi aku berusaha berpikir positif, aku akan terus mendoakan simbah.

Teringat banyak hal tentang simbah.
Teringat tatap mata berbinar itu dan kalimat

"Ayune.." (cantiknya..)
"Semoga simbah sempat lihat kamu menikah."

Iya, mbah. Simbah harus sempat melihatku menikah. Simbah harus sembuh, simbahku yang kuat, simbah pasti bisa.





No comments:

Post a Comment