Wednesday, 7 September 2016

Hal-Hal yang Aku Dapatkan Selama KKN

Sebelum berangkat malesnya minta ampun, minggu pertama rasanya pengen pulang terus karena aku berangkat dalam keadaan aku udah mulai merasa nyaman dengan rutinitas di kantor, tapi setelah semua itu selesai, I really wanna go back there. Kangen sama warga Dusun Duwet yang selalu hangat dan ramah, tulus, adek-adek TPA yang selalu menemani kesunyian, dan tentunya temen-temen satu unit.

KKN di UII beda dengan KKN di UGM yang bisa milih kita mau sekelompok sama siapa dan lokasinya di mana. Kita dimanjakan dengan sistem. Tinggal buka web kampus, klik sana sini, ketemu deh nama 7 orang yang sudah ditakdirkan untuk hidup satu atap bersamaku selama sebulan di Dusun Duwet, Desa Jerukwudel, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

Hidup seatap selama sebulan bersama orang-orang asing itu gak gampang. Baru seminggu meet up rutin untuk membahas persiapan KKN, belum begitu kenal watak dan karakter satu sama lain, terus ujug-ujug udah disuruh satu kelompok dan tinggal bareng aja. Awalnya awkward banget.

Awalnya aku gak nyangka aku akan sebegini kangen dengan mereka bertujuh, meskipun nggak dipungkiri juga aku emang merasa gak cocok dengan beberapa orang di dalam unit KKN ku kemarin. KKN membuatku belajar cepat dalam berkompromi. Kalo lagi kesel sama salah satu dari mereka, pasti ngebatin, 

"sabar, sabar... kamu masih sebulan lagi berurusan sama dia, kamu butuh dia! jaga hubungan baikmu dengannya!" atau "hhhh.. kalau gue gak hidup sama lo sebulan gini, udah gue pedesin tiap hari deh lo!" :))

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sesuatu yang awalnya menyebalkan tidak lagi terasa menyebalkan. Itu karena aku telah beradaptasi, berkompromi, dan akhirnya terbiasa oleh hal-hal menyebalkan tersebut. Banyak hal yang awalnya menyebalkan tapi akhirnya jadi biasa aja karena aku udah berhasil beradaptasi, 

Mulai dari beberapa sifat dari temen-temen satu unit yang bikin aku gak cocok, 

Air tangki Gunungkidul yang bikin kulitku gatel-gatel parah setiap abis mandi,

Mendengarkan obrolan warga yang kadang aku gak ngerti,

Harus bangun pagi dan membantu ibu kadus masak, nyapu, dan ngepel (soalnya kalau gak gitu gak enak juga kan),

Jadi sekretaris unit padahal aku gak suka hal-hal administratif,

Jadi juru bicara antara unit dan warga karena aku lah satu-satunya orang Jawa di unitku, kadang jadi translator ketika temen-temen satu unit mulai berbisik, "sal, si ibuk ngomong apa barusan?" akibatnya warga jadi paling apal sama aku, dan aku harus berbasa-basi dengan mereka lebih banyak dari temen-temenku yang lain.

Awalnya itu sangat melelahkan, tapi lama-lama aku terbiasa juga. Aku memperluas banyak zona nyaman selama aku KKN. Sekali lagi aku berhasil melakukan hal-hal yang kupikir tidak mungkin untuk kulakukan.

Yang paling susah sih ketika aku harus tetep bertingkah baik di depan salah satu temen unit meskipun aku lagi kesel banget sama orang itu. Padahal aku kan orangnya tidak bisa menyembunyikan ketika aku tidak suka sama suatu hal. Tapi di KKN aku belajar acting dengan sangat baik... err... lebih tepatnya profesional. Lol.

Hal paling mustahil yang udah aku lakukan adalah pulang ke Jogja abis maghrib. Iya, dari Girisubo, wilayah Gunungkidul yang deket pantai dan deket perbatasan Wonogiri. What?! Pas SMA diajak naik motor ke pantai Indrayanti pagi-pagi aja aku gak berani. (I know, shameless

Jadi ceritanya fakultasku kena konversi nilai. Penjelasan sederhananya, ada beberapa matkul yang misalnya tadinya 6 sks, jadi 3 sks, 2 sks jadi 3 sks. Ya begitulah. Entah kenapa pas kena konversi nilai itu SKS yang udah aku ambil selama 3 tahun kuliah ini jadinya ilang 3 sks. Prodi Manajemen memerintahkan mahasiswa yang sksnya ilang untuk dateng ke prodi besok paginya jam 7. Mengingat prodiku yang selalu rigid dalam peraturan... Kalau enggak diurus, bisa mundur dong waktu nikahku.....

....Maksudnya wisuda.

Mau gak mau aku ditemenin sama salah satu temenku yang cewek, harus balik ke Jogja malam itu juga melewati jalanan nanjak dan berkelok-kelok serta pastinya sangat gelap. Waktu itu situasinya temen-temenku lagi ribet bantu-bantu di Dusun Duwet, karena lagi ada acara lomba voli dan persiapan jathilan menyambut Rasulan. Rasulan itu budaya Gunungkidul, semacam kesenian untuk persembahan pada nenek moyang atas hasil panen yang melimpah. Selain itu mereka masih pada sibuk ngejalanin proker individu mereka di pagi harinya jadi gak ada yang bisa pulang ke Jogja.

Yang bikin aku akhirnya menyadari bahwa temen-temen yang tadinya asing udah pada kayak keluarga adalah saat dua orang temenku yg cowok nganterin aku sampai Semanu, tadinya aku mau pulang sendiri tapi disentak sama mereka,

"Gila kau ya?! Gak lah kita anterin aja! Seenggaknya sampe Semanu. Di daerah Semanu gak ada lampu lho,"

Satu temenku lagi dari Kedokteran rela minjemin motornya, dan yang paling penting satu temenku dari Psikologi yang gak ada kepentingan apa-apa di Jogja tapi mau-maunya aku ajak menelusuri jalanan semenyeramkan itu. 

Malam itu setelah diboncengin cowok-cowok sampai Semanu, aku melanjutkan perjalanan dengan jalan berkelok-kelok dan nanjak dengan mboncengin temenku yang anak Psikologi tadi. Selama di jalan, banyak hal yang dia ceritain ke aku. Tentang posko, tentang unit, dan semua tentang dia yang bikin aku jadi tambah kenal sama cewek alim satu itu. Di tengah jalan dia bilang, "aku gak tega kalau kamu sampe jadi pulang malem sendirian, Sa," 

Jadi terharu. The power of tinggal sebulan bareng-bareng. From stranger to family. *lebay* 

Intinya kalau kita baik dan memberi ke orang-orang sekitar, pasti kita akan dapat bantuan ketika kesulitan. Makanya jadi orang jangan pelit-pelit memberi bantuan atau apapun itu. Aku selalu percaya itu. Setidaknya kalau yang nolong kita itu bukan orang yang kita tolong, pasti nanti ada aja bantuan yang akan datang ke kita. Ibuku selalu bilang gitu sejak aku kecil.

Well, KKN membuatku menggeser batas nyamanku lebih dan lebih jauh lagi. Hal-hal yang tadinya tidak bisa, tidak biasa, atau tidak mau aku lakukan, akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik.

Di KKN, di dalam posko, setelah beberapa hari, masing-masing temen satu unit mulai menampakkan warna aslinya. Bagiku itu menakjubkan. Mengamati manusia. 

Orang yang tadinya kukira bakal ngeselin karena terlalu alim ternyata malah jadi yang paling nyambung sama aku selama di KKN, well ternyata dia orang yang sangat gila dan tidak spaneng-spaneng amat, aku terjebak first impression akan penampilannya yang beda dari anak-anak lainnya, 

Orang yang tadinya kukira seru dan bisa diandalkan, ternyata.... errr.... agak zonk?

Orang yang tadinya kukira gak bisa serius dan selalu main-main, nampak bodoh karena candaannya gak penting, ternyata jadi yang paling serius dan paling pinter mengatasi segala situasi yang terjadi selama kami bertujuh hidup dalam satu atap.

Orang yang tadinya kukira pendiem, ternyata mulutnya ancur dan bisa ngancurin perut plus usus ususnya karena omongannya.... #%%#@#$%% cetannnn... gak bisa kalau gak ketawa.

Terlalu banyak hal-hal membahagiakan, mengharukan, dan tentunya ngeselin selama tinggal seatap bersama tujuh orang yang tadinya gak kenal itu. Yang kalau ditulis semuanya bisa bikin aku telat piket kantor. Ya kapan-kapan kalau kehabisan ide nulis padahal pengen nulis aku tulis aja lah.

Intinya kehidupan KKN ku meskipun sulit air, gatal-gatal meninggalkan bekas kek cacar, tidak dapat jodoh kayak di FTV, ketinggalan liputan Prambanan Jazz, tapi aku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang gak bisa ditulis satu-satu.

 
















No comments:

Post a Comment