Wednesday, 19 October 2016

Sepatu Lucu Tapi Ukurannya 41 Sentimeter

"Aku sebenernya selalu takut loh ketemu dia, langsung ngacir aja deh mending," kataku sambil tetap fokus nyetir.

Waktu itu aku baru aja ngejemput salah satu sahabatku di sebuah hotel, terus kami pergi ke sebuah resto yang ternyata tukang parkirnya ganteng (sebenernya itu Wok and Pan Jalan Gejayan), abis itu dalam perjalanan pulang, lagi-lagi, aku curhat. Aku curhat betapa aku menjadi sangat berbeda di depan satu orang dan itu udah aku alami bertahun-tahun dan sebenernya aku juga kesel sama diriku sendiri.

"Lah, kenapa? Kan ganteng, kurangajar gantengnya, apalagi kalau lagi senyum. Kurangajar."

((( kan ganteng )))

Aku memutar bola mataku. Hrrrr setiap orang selalu bilang gitu tentang manusia itu. Padahal manusia itu punya banyak hal lain yang menarik selain ganteng. Kok tau sih? Ya kan aku memiliki skill kepo selevel BIN.

"...Ganteng sih iya, daridulu aku juga tau, semua orang juga tau keleus. Tapi masalahnya ketemu dia aku merasa harus belajar dulu tau gak sih?" kemudian aku reflek ngakak, sahabatku juga ikut ketawa.

"Kayak harus baca buku dulu gitu ya?"

"Iya.. Berasa lagi sidang skripsi atau ujian kompre. Gak santai banget, berat."

Kami kemudian ketawa-ketawa bersama. Suara teman SMPku yang saat itu lagi cuap-cuap di Swaragama FM pun jadi terabaikan. Padahal biasanya selalu mendengarkannya siaran.

"Kamu tu sebenernya bisa jawab pertanyaan dia loh, kamu tu tau jawabannya, tapi kamu terlalu berusaha mencari jawaban yang sempurna. Kamu malah jadi gak bisa jawab," kata sahabatku yang pada malam itu kesempitan karena jarak antara kursi mobil dan dashboard nampak tak kuasa menahan lebar badannya.

"Iya ya?"

"Aku tau sebenernya kamu pinter, Sal. Coba sekarang kita mulai... menurut kamu, isu soal Ahok itu gimana?"

Aku kemudian bisa beropini dengan lancar.

"Tu kan bisaaaaaa!"

"Soalnya ngomongnya sama kamu sih."

"Iya soalnya kamu cari jawaban yang sempurna di depan dia."

"Iya nih, aku pengen terlihat sebaik mungkin. Takut keliatan jelek depan dia."

"Gak bisa jadi diri sendiri di depan dia ya?"

"Kira-kira gitu.."

Terus kami ketawa lagi. Gak tau, ketawa aja. Kalau aku sih ketawa soalnya gak ngerti sama alam semesta ini terkait satu hal, kenapa sampai sekarang manusia itu masih bercokol di otak. Sesibuk apapun, lagi ada gebetan atau enggak, kalau ada waktu luang, pasti dia selalu aku pikirin barang satu atau dua menit. Lagi apa? Di mana? Lagi sibuk apa? Sekarang kayak gimana? Kan kesel. 5 fckn years. Kan kesel.

"Aku selalu suka sama dia. Tapi dia.. adalah..." omonganku terhenti, mikir apa kalimat yang pas buat nggambarin semuanya.

"Yep?"

"Adalah sepatu lucu berukuran 41 sentimeter."

"Ha? Maksute? Apa sih?! Kok kamu sekarang jadi tambah aneh gini?!" Sahabatku itu ketawa lagi

"....Dan fyi ukuran kakiku 37 sentimeter, Din."

Sahabatku yang daritadi aku bahas ini, namanya Dina, akhirnya ngakak.

"Ya ya ya.. aku ngerti."

"Gak semua yang aku suka, bakal pas di aku."

*Sebenarnya postingan ini hanyalah menceritakan percakapan enggak penting antara aku dan Dina setelah selesai makan dan ngecengin tukang parkir ganteng di Wok Pan Gejayan.











1 comment: