Wednesday, 30 November 2016

"Setiap Orang Memiliki Keberuntungannya Masing-Masing"

Di semester akhir ini, kegiatanku di pagi hari menjadi 180 derajat berubah. Dulu waktu masih sering kuliah, setelah shubuhan aku tidur lagi dan bangun jam 7 atau 9 untuk kuliah. Sekarang aku tidur lebih awal, bangun jam 3 pagi, ngerjain skripsi yang datanya bejibun sambil menunggu sholat shubuh. Setelah itu tidak tidur lagi, kembali ke skripsi atau siap-siap berangkat ke suatu tempat kalau ada jadwal liputan.

Di sela-sela semua itu, pasti ada kegiatan kepo. Semua sosmed pasti aku buka. Pagi ini aku membuka instagram dan langsung melihat foto salah satu temanku dengan baju putih, rok item, dan kerudung item, with her puffy eyes karena abis nangis saking bahagianya. Di tangannya, ia memegang buket buka pemberian teman-temannya. Dia lulus kompre setelah beberapa kali gagal.

Di caption foto itu dia menulis,

"setiap orang memiliki keberuntungannya masing-masing dalam hal tertentu. Saya selalu tidak beruntung dalam hal ini, alhamdulillah, hari ini saya diberi keberuntungan untuk hal ini."

Entah kenapa hatiku menghangat membaca caption instagramnya. Membuatku yang belakangan ini sering mengeluh jadi malu. Aku gak beruntung soal dosen pembimbing. Dosen bimbinganku sangat idealis terkait topik dan aku gak yakin aku bisa lulus cepat. Membaca caption itu pagi ini membuat hatiku jadi damai.

Well, aku gemar mengamati manusia, siapapun itu, meskipun manusia itu tidak sadar kalau aku mengamatinya. Mungkin caption itu tidak begitu menyentuh ketika ditulis oleh orang lain. Meskipun tidak terlalu dekat, but I know her.

Si penulis caption adalah teman satu kelasku ketika semester 1. Dia sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman satu kelasku karena dia selalu mengulang mata kuliah tertentu, dimarahi dosen karena dia lamban dalam berfikir, dan ketika ada kerja kelompok, semua temanku akan merasa tidak beruntung jika ada dia dalam kelompok mereka.

Tidak sepertiku yang diprediksi mustahil untuk tidak lulus, ketika dia gak lulus ujian kompre pada tahap sebelumnya, gak ada yang kaget sama sekali. Bahkan semua orang di sekitarnya diam-diam sudah memprediksi kegagalannya. "Enggak mungkin lah dia langsung lulus, orang dia aja di kelas kayak gitu, tau sendiri lah," kira-kira seperti itu lah apa yang orang-orang bicarakan di belakangnya.

Sebenarnya dia tau bagaimana orang-orang meremehkannya, dia pernah cerita ke aku. Ada hal yang aku suka darinya, dia tetap berusaha dengan baik meskipun pada akhirnya hasil kerjaan dia itu diketawain di belakang, dibilang gak mutu atau gak niat, dijadiin bahan olokan.. At least she's always trying her best. Meskipun dia tau hal itu bukan keberuntungannya tapi dia tidak pernah berhenti mengusahakan yang terbaik.

Belum tentu kan, teman-teman yang meremehkan dia itu seberani dia dalam hal mengusahakan ketidakberuntungannya? Jadi malu nih, aku suka gampang nyerah, padahal menurutku, keberuntunganku lebih banyak darinya.

Selama ini aku menjalani perkuliahan dengan sangat mulus. Nilai straight A, muncul di Semester Pendek orang pada kaget, gak pernah ngulang, masih sempet magang di KR lagi... Terus, baru dikasih dosbing idealis udah ngeluh-ngeluh. Padahal dosbingnya juga gak susah ditemui dan mau banget jawab pertanyaan. Aku cuma lagi ngitung keberuntunganku aja supaya aku gak ngeluh..

Mungkin dengan ini aku harus menyadari bahwa hidup tidak selamanya enak, sekali-kali harus ngerasain hal gak enak di dalam satu aspek kehidupan, dan menikmati apa yang ada.


No comments:

Post a Comment