Monday, 2 January 2017

Tentang Orang Kesepian

Setiap jam 10 malam ke atas, ponselnya tak pernah sepi dari keluh kesah orang-orang dan ajakan untuk bertemu dari berbagai orang. Jengkel sih iya, tapi ia terlalu baik untuk mengabaikan semua keluhan manusia-manusia itu. Keluhan tentang kekasih mereka, keluhan tentang rekan kerja mereka, keluhan tentang bobroknya organisasi yang ia geluti, yaaa isinya keluhan-keluhan.

"Kamu di mana? Aku butuh kamu, aku diturunin dipinggir jalan sama dia. Aku berantem sama dia,"
"Bisa kita ketemu besok? Besok cewekku ulang tahun, tolong temani aku pilih hadiah,"
"Kenapa kamu gak angkat teleponku? Aku butuh kamu, aku punya cerita,"
"Ketemu yuk, ceritain aku sesuatu yang lucu. Aku lagi butuh ketawa, hidupku lagi sedih,"

Dalam hati ia berharap, ketika ia datang menampung seluruh keluhan mereka, mereka juga bisa menampung seluruh keluhannya. Tapi harapannya itu tak sesuai dengan kenyataan, berjam-jam ia mendengarkan orang berbicara dalam diam. Mendengarkan. Awalnya ia merasa tak ada bedanya dengan mendengarkan radio, tapi lama-lama ia berusaha belajar dari setiap cerita dan keluhan manusia-manusia yang menggantungkan kelegaan batin padanya. Tapi tetap saja, ia ingin didengarkan.

"Jangan bilang siapa-siapa ya," kata beberapa dari mereka setelah selesai bercerita tentang beratnya kehidupan mereka disela tangisnya. Semakin banyak yang mengatakan itu padanya, semakin ia tahu bahwa kesepian bisa menjelma dalam suatu bentuk selain selalu sendirian. Kesepian itu bisa terjadi ketika kita menyimpan satu rahasia seorang diri. Orang-orang yang tukang ember rahasia orang itu mungkin tidak tahan oleh bentuk kesepian yang satu itu.

Ditengah orang-orang yang menggantungkan keluhan dan rahasia hidup padanya, ia hanyalah manusia biasa yang juga memiliki masalah dan rahasia. Ia menyimpan rahasia dirinya sendiri dan menyimpan rahasia orang-orang. Kesepian pun menjadi berlipat.

Belum lagi di rumahnya, tak ada tempat untuknya bercerita. Entah karena orang tua yang tak pernah akur, terlalu sibuk, atau orang tua yang raganya di masa sekarang namun pikirannya tertinggal pada jaman dulu. Tak sejalan, tak pernah mengerti pikirannya yang hidup di masa sekarang.

Ia jengah pada orang-orang yang hanya menyuruhnya berdoa, berkeluh kesah hanya padaNya. Ia tak pernah setuju pada konsep itu. Ia telah berkali-kali melihat orang yang paling dikasihinya menderita dan mencederai batinnya sendiri gara-gara hanya berdoa tanpa berbagi rahasia atau beban hidup lainnya dengan manusia manapun. Sejak saat itu baginya, manusia tetap membutuhkan manusia lainnya. Semandiri apapun manusia, ia tetap butuh tempat untuk didengarkan dan dimengerti.

Apalagi pada orang-orang yang mengatakan padanya, "yang punya masalah gak cuma kamu," jengah. Ia jengah.

Dan tempat untuk bercerita menjadi suatu kemewahan untuk orang-orang kesepian. Sehingga bagi sebagian orang kesepian, once they have it, they dont want to share with anyone. Kemewahan itu bisa menjelma menjadi apapun, seorang sahabat, seorang kekasih, atau saudara sedarah. Orang itu adalah orang-orang yang memberi kemewahan bagi seseorang yang kesepian. Mungkin bagi beberapa orang kesepian, kemewahan itu lebih dari benda mewah apapun yang dikenakannya.

Pada orang-orang yang menjadi tempatnya bercerita, sebagian dari orang-orang yang kesepian cenderung menjadi posesif, tak ingin sedikitpun berpisah pada kemewahan itu. Mendadak lupa bahwa orang itu bukan hanya miliknya, mendadak jadi terlalu serakah.

Sebagian lagi cenderung menjadi pencemburu, takut kalau kemewahan itu tak lagi peduli padanya.

Sebagian lagi cenderung menjadi orang yang menyerahkan segala-galanya yang ia miliki, hanya untuk mempertahankan kemewahan itu. Sampai ia jadi tak masuk akal, sampai orang-orang sekelilingnya memandang dirinya memalukan.

Dan orang-orang itu yang selalu meracau tak jelas di sosial media, orang-orang yang mungkin pernah kalian mute atau unfriend karena terlalu spamming... bisa jadi ia salah satu dari beberapa orang kesepian lainnya. Ia menganggap sosial media adalah subtitusi dari tempat bercerita yang berwujud manusia langsung di hadapannya.

Ngga tau kenapa juga nulis kayak gini, tapi ini yang aku alami sekaligus yang orang-orang sekelilingku alami.









No comments:

Post a Comment