Saturday, 11 March 2017

Hal-Hal yang Aku Pelajari Setelah Melangkah Dari Zona Membosankan

Malam ini aku harus menelan kenyataan pahit lagi. Niatku untuk menyelesaikan BAB 4 skripsi harus mendadak pergi. Hati ini sakit tak terperi... lagi-lagi, hanya wacana-wacana yang meliputi pengerjaan skripsi. Kalau sudah begini, cuma bisa menghibur diri.

Sudahlah, Sal, memang buat apa lulus cepat-cepat? memangnya kamu sudah yakin akan rencana kamu setelah lulus yang sudah kamu rancang itu? Coba mantapkan lagi, mungkin Allah ingin kamu memantapkannya dulu.

Sudahlah, Sal, memang buat apa lulus cepat-cepat? toh kamu juga masih butuh status mahasiswamu untuk cari-cari pengalaman magang sana-sini tanpa ditanyai kapan tergerak cari nafkah tetap dan kapan settle kerja di satu tempat. Salah sendiri pas SMA dan kuliah kerjaannya cuma hura-hura, kepanitiaan ikut cuma dua, nyadar kalau harus bergerak sana sini cari pengalaman baru pas udah mulai masuk semester tua. Haha.

Sudahlah, Sal, memang buat apa lulus cepat-cepat? kamu kan tidak berniat menikah muda? keluarga juga sependapat denganmu untuk mengejar pendidikan dan karir kamu sendiri. Harapan orang tua, supaya kelak dapat jodoh yang baik pula, supaya pintar dan tidak mudah dibodohi oleh pria-pria dengan kepercayadirian rendah yang memandang istri mandiri itu menyeramkan, yang memandang istri harus selalu nurut sama suami tanpa adanya ruang diskusi. Tentunya supaya kelak dijauhkan dari pria yang berpaham patriarki seperti Felix Siauw. (Sumpah gue trigerred banget kalau baca tweets beliau, dari dulu).

Yah, begitulah penghiburan-penghiburan yang belakangan ini aku tanamkan di benak kalau mood ngerjain skripsiku tiba-tiba sirna. Masih kebawa sifat pemalas jaman SMA yang coba mati-matian aku hilangkan. Aku ini hanyalah pemalas pecinta zona nyaman yang merupakan anak kemarin sore dalam hal menyadari bahwa kita ini harus keluar dari zona nyaman (mencari pengalaman maksudnya). BLA BLA LEAD POSTINGAN INI GAK NYAMBUNG.. sebenarnya aku ingin sharing tentang hal-hal yang kupelajari belakangan ini ketika aku memutuskan stop stuck di zona nyaman.

Jangan sekali-kali remehkan dan rendahkan seseorang, sepayah apapun dia

Karena bisa jadi kita kurang mengenalnya, bisa jadi karena kita kurang mengenalnya kita tidak tahu bahwa sebenarnya dia lebih tahu dan lebih hebat daripada kita dalam beberapa hal. Ingat, setiap orang punya potensi sendiri-sendiri, Mungkin potensinya tak dimiliki olehmu. So, usahakan jangan merasa paling paling dalam segalanya. Karena bisa jadi, kelak kamu akan membutuhkan bantuan orang yang mungkin sekarang sedang kamu remehkan dan injek-injek. Tengsin br0.

Dengarkan masalah yang dimiliki orang-orang dan pahami posisi mereka masing-masing

Selain bikin sudut pandang kita semakin kaya, kita juga bisa belajar lebih bersyukur. Lihat sekeliling, banyak yang masalahnya lebih berat tapi tetap tegar. Belajarlah sekuat mereka-mereka itu. Tapi kalau menurutku, jangan sekali-kali meremehkan curhatan orang-orang sesepele apapun itu. Mungkin bagimu masalah mereka kecil, bagimu masalah itu udah makanan sehari-hari. Tapi ingat, mereka bukan kamu. Kapasitas orang dalam menanggung suatu masalah itu berbeda-beda. Kalau ada yang menangis over the simple thing.. Dengerin aja :) sering wawancara psikolog dan orang yang wara-wiri ke psikolog atau pskiater membuatku berfikir satu hal...

Mungkin saja orang yang bisanya cuma bilang "semua orang punya masalah, gak cuma kamu," ketika dicurhati seseorang itu punya andil. Punya andil pada siapa? Punya andil pada orang-orang yang wara-wiri ke psikolog atau pskiater karena depresi atau gangguan mental lainnya.

Berkat kalimat "semua orang punya masalah, gak cuma kamu," , "gitu aja nangis, gembeng," , atau "masa gitu aja ngeluh sih?" beberapa orang akan lebih memilih memendam semua masalahnya yang dirasa berat karena ia tak punya cukup banyak tenaga lagi untuk menghadapi judgement kayak gitu. Well, aku juga punya pengalaman pribadi, melihat orang terkasih harus menderita gangguan mental karena gak ada satupun yang dengerin dia dan kebanyakan menganggap masalahnya SEPELE. Kalian dengar kan, orang-orang yang suka nyepelein curhatan temen? :)

Bagiku persetan sih kalau ada yang punya paham "no one is care about your problem". Yaa mungkin emang ada benernya, dan penyelesaian masalah itu ada pada orang itu sendiri, tapi gak ada salahnya kan mendengarkan? Hehe. Well kalau ada yang punya paham bahwa no one is care, terserah sih, tapi jangan biarkan orang lain juga percaya pada pahammu itu. Karena itu paham yang nyusahin diri sendiri.

Berteman dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda

Ini aku ngerasain banget sih. Intinya pindah dari satu circle pertemanan ke circle pertemanan lain yang memiliki obrolan, budaya, dan sikap yang beda-beda. Semakin beragam semakin banyak pengetahuanmu. Ya misalnya kalau kamu merasa kamu anak akademis banget dan teman-teman satu circlemu juga sepertimu, coba deh, sekali-kali, dalam beberapa hari kamu bergaul sama anak-anak yang organisasi oriented, anak-anak yang keliatannya hura-hura terus ngikutin tren, atau sama anak-anak yang kerjaannya adem bener karena beribadah terus di musholla kampus, etc etc. Hehehehe aku udah nyoba soalnya, udah dari SMP malah lol. Percaya deh, itu asik. Akan banyak sudut pandang dan pengetahuan baru yang kamu dapatkan. Selain itu, kamu jadi lebih memahami berbagai jenis manusia. Perasaan semacam "eh ternyata mereka gak gitu-gitu amat, gak kayak dugaan gue selama ini soal kelompok orang kayak mereka," atau "Jadi itu sebabnya mereka memilih seperti ini?" pasti akan kalian dapatkan. Haha.

Yang sempurna menurut orang-orang belum tentu sempurna untukmu

Lah mantap kalau ini. Hahaha. Kayaknya gak usah dijelasin panjang lebar juga kalian semua pernah merasakan. Ini bisa soal pilihan pekerjaan, make up, pilihan baju, atau someone special. Hehe :3 yang cocok bagi mereka belum tentu kok cocok bagimu. Kamu akan menemukan yang suits you best~~ usahakan jangan terpengaruh.... pilihlah yang memang benar-benar buatmu cocok.

Cara nyemangatin orang itu juga beda-beda

Ada yang dengan dikritik terus menerus bukannya semakin semangat memperbaiki tapi malah semakin down dan gak fokus. Giliran coba diapresiasi, semangatnya semakin baik dan akhirnya fokus dia mengerjakan segala sesuatu dalam hidupnya juga membaik. Tapi ada juga orang yang dipuji malah keblinger dan gak fokus, nah baru deh pas dia dikritik, dia semacam bangun kembali dan semangatnya mulai membara lagi. Sekali lagi.. jangan sama ratakan. Semua orang beda-beda. :D

Attitude mengalahkan skill

Ini berasaaaaa banget aku pahami setelah aku magang di KR dan komunitas sosial selama hampir setahun belakangan ini. Sebelum keluar dari zona nyamanku yang hanya hura-hura dan galau lanangan, kupikir kalau kita punya skill ya kita pasti jadi orang yang terpilih dalam suatu pekerjaan atau organisasi. Tapi ternyata enggak selalu wkwkwk..

Selama aku magang, aku melihat beberapa temanku yang punya skill oke tapi akhirnya "didepak" juga karena attitude mereka yang buruk tak terkendali lagi. Jadi sayang kan skillnya kalau tidak didukung dengan attitude yang baik. Atasanku di kantor pernah bilang, "yang menentukan apakah kamu bisa bersaing itu tidak melulu soal skill, tapi etos kerja, bagaimana cara kamu menghargai orang, memahami orang, semua soal attitude," katanya.

"Lebih baik skill gak oke tapi attitude excellent, skillnya masih bisa dikembangin. Lah kalau skill oke tapi "petingkah"? Ya udah lah susah, buang-buang waktuku aja, mending langsung di "cut," deg. kemudian omongan itu bener-bener masuk dalam relung hati, Halah. Kalau pun mau bisnis attitude juga menentukan sih menurutku.

Ya udah ya segitu dulu. Aahhaahaha.

















No comments:

Post a Comment