Saturday, 18 March 2017

Now I Know Why

Seperti biasa, tidak bisa tidur dan ingin meracau di sini. Keinginan untuk menulis di sini berbanding lurus dengan banyaknya tulisan yang aku baca mendekati tengah malam.

Aku ingin mengawali tulisan singkat ini dengan perkataan sahabatku yang bernama Dhea, pada suatu malam di mana aku memutuskan nginep di rumah dia karena dikancingi sama ibu kos. Manusia yang cukup eksis di kota kecil bernama Yogyakarta ini pernah bilang, "semua orang berubah lho, Sals. Gak mungkin kamu yang sekarang sama kayak kamu lima tahun yang lalu." 

Kalimat yang cukup simpel dari orang yang pemikirannya memang simpel. Meskipun simpel, aku sering lupa akan hal itu. Sering aku menganggap orang yang sudah lama aku kenal masih sama sampai kapanpun. Sering aku menganggap aku masih sama seperti yang dulu padahal orang lain melihatku sudah berbeda. Begitulah.

Dhea tidak hanya menyadarkanku soal hal itu, dia juga mengajakku untuk menoleh ke belakang, pada masa-masa di mana aku menginginkan satu hal dengan sangat sampai sepertinya aku bisa mengorbankan segalanya, masa-masa di mana aku merasa tak berarti ketika aku tidak mendapatkan hal itu. 

"Heh, kowe kelingan ra, Sals? Mesti kowe ngguyu nek saiki tak critani.." (Heh, kamu inget gak, Sals? Pasti sekarang kamu ketawa kalau aku ceritain)

Dia kemudian mengingatkanku akan suatu pertemuan kami di tengah pergantian mata kuliah. Hari itu adalah saat di mana aku masih belum bisa sepenuhnya merelakan apa yang tidak bisa aku dapatkan meskipun sudah berdarah-darah mengusahakannya. (Now I know why Dhea has a wide circle of friends, dia mampu membuat orang-orang di sekelilingnya betah berada di sampingnya dan tanpa ragu-ragu langsung terbuka padanya) :)) 

"coba ditengok lagi aja. Dengan kamu dan pandanganmu yang sekarang ini, emang kamu masih menginginkan hal yang sama? jangan-jangan keinginanmu cuma buat dulu doang tapi kamunya kagak sadar," adalah saran Dhea sebelum hari itu memutuskan untuk mematikan lampu kamar dan tidur di sampingku sambil mendengkur halus. 

Begitulah aku, aku tak suka diatur tapi ketika aku hilang arah aku benar-benar mendengarkan dan merenungkan perkataan orang-orang terdekatku. Aku kembali menciptakan suatu keganjilan bagi orang-orang, yaitu coba memancing masa lalu yang tertimbun di dalam tanah untuk bangkit, satu kali lagi.

Aku gak pernah nyangka bahwa saat-saat di mana seharusnya kaki ini bisa dengan mudahnya mendekati hal yang dulu kuinginkan, justru menjadi saat-saat di mana aku sadar bahwa bukan itu lagi yang aku inginkan. Bahkan aku tak habis pikir dengan diriku yang dulu, bertanya-tanya, mengapa dulu aku sangat menginginkannya? I dont even understand.

Aneh sekali memang. Mungkin aku yang sudah berbeda, mungkin hal itu yang sudah berbeda, atau dua-duanya sudah berbeda. Tak ada kemudian-kemudian yang lain kecuali aku yang kemudian benar-benar merelakan bahwa mewujudkan keinginanku yang satu itu bukan takdirku.

Ya entah, hanya saja semakin waktu berjalan, semakin banyak hal-hal yang terjadi padaku yang membuatku semakin sadar mengapa aku tidak ditakdirkan untuk mewujudkan keinginanku satu itu. And it is not because I'm not good enough, but its because I'm too good for that

No comments:

Post a Comment